Deviant Logo

Ekstraksi Forceps versi Ekstraksi Vakum, mana yang menang?

post details top
Dec 9th, 2009
post details top

vakum vs forcepsEkstraksi vakum dan ekstraksi forceps pada dasarnya sederajat,  terkait dengan risiko trauma-nya, maka keduanya dilakukan pada persalinan hanya dengan indikasi yang tepat. Sebelum melakukannya kita harus benar – benar memeriksa kondisi parturien, misalnya faktor – faktor risiko yang ada, kecukupan luas panggul, taksiran besar janin dan tidak boleh dilupakan akan kemampuan dan pengalaman operator itu sendiri.

Ekstraksi vakum dan forceps umumnya sering dikerjakan pada : partus lama, partus yang diawali dengan induksi oksitosin, riwayat operasi sesar sebelumnya dan beberapa penyakit sistemik yang membuat itu tidak boleh terlalu banyak mengejan seperti hipertensi, asthma dll.

Ekstraksi vakum dan forceps selalu dibutuhkan untuk : ibu yang kelelahan, tdak bisa mengejan dengan baik, penyakit jantung, pada kondisi janin "non-reassuring fetal heart rate" atau sering disebut fetal distress, dan pada kondisi obstetrik seperti partus macet, deep transverse arrest (DTA), POPP.

Ekstraksi vakum dan forceps tidak boleh dikerjakan pada presentasi janin selain vertex (belakang kepala), janin dengan kepala belum engaged (curiga CPD), posisi kepala yang tidak diketahui, prematuritas sebelum 34 minggu, gangguan pembekuan darah yang sudah diketahui sebelumnya.

Ekstraksi vakum dan forceps harus dipertimbangkan dengan benar jika dilakukan pada ibu dengan obesitas atau Dm, janin makrosomia, partus lama terkait risiko distosia bahu.

Walaupun ada istilah vakum/forceps tinggi dan tengah  … saat ini keduanya sudah ditinggalkan terkait komplikasi trauma yang sangat besar terhadap ibu maupun janin. Hanya ekstraksi vakum dan forceps letak rendah yang boleh dikerjakan.

 

Perbandingan antara Ekstraksi Vakum dan Ekstraksi Forceps

Keamanan terhadap Ibu :vacuum delivery

  • Risiko terjadi distosia janin 2 kali lebih besar pada ekstraksi vakum
  • Risiko perdarahan postpartum akan lebih meningkat pada penggunaan forceps
  • Kebutuhan anestesia pada ekstraksi vakum lebih sedikit (22 vs 31%)
  • Risiko laserasi jalan lahir dan laserasi perineum derajat 3 dan 4 (ruptur total) jelas jauh lebih tinggi pada ekstraksi forceps
  • Rasa nyeri perineum pada 24 jam pasca persalinan pun pada ekstraksi foceps meningkat (15 vs 9%) akan tetapi derajat nyeri selama persalinan dikatakan sama
  • Kerusakan sfingter endoanal (dilihat dengan USG endoanal) juga dikatakan sama

 

Keamanan pada bayi :ekstraksi forceps

  • Kejadian cephal hematoma jauh lebih tinggi pada pemakaian cup vakum (10 vs 4%)
  • Perdarahan retina mata juga lebih tinggi pada vakum (49 vs 33%)
  • Hyperbilirubinemia pada neonatal lebih sering terjadi setelah ekstraksi vakum
  • Nilai APGAR score tidak berbeda secara signifikan
  • Angka trauma kulit kepala dan wajah, kebutuhan fototerapi, kematian perinatal, lama perawatan di RS, gangguan pendengaran dan penglihatan pada neonatal dikatakan sama
  • Kelainan – kelainan lain yang mungkin terjadi seperti trauma saraf facial, abrasi kornea, memar dan laserasi wajah mungkin lebih tinggi pada forceps, tetapi trauma yang mengancam jiwa bayi seperti hematoma sub-galeal dan perdarahan intra-kranial jauh lebih tinggi pada ekstraksi vakum
  • Efek jangka panjang meliputi gangguan saraf dan kecerdasan yang diakibatkan penggunaan ekstraksi vakum dan forceps dikatakan tidak berbeda dengan partus spontan.

 

Efektifitas

  • Walaupun ekstraksi vakum dan ekstraksi forceps mempunyai keberhasilan yang tinggi jika dilakukan oleh operator yang cakap (83-94% vs 85-92%) tetapi kegagalan penggunaannya jauh lebih tinggi pada ekstraksi vakum (12 vs 7%)

 

Review

Saat ini ketika saya belajar sebagai residen, ekstraksi forceps sudah banyak ditinggalkan, ekstraksi vakum mendominasi persaingan diantara keduanya. Padahal ketika saya dulu menjadi coass stase obsgin tahun 1999/2000 dulu, setiap hari saya melihat residen melakukan ekstraksi forceps. Saya tidak tahu dengan pasti kenapa bisa begitu, apakah memang kemajuan tehnologi instrumen vakum sudah maju dengan ditemukannya model – model baru, tetapi alasan klasik memang risiko trauma jalan lahir yang hebat menjadi kambing hitam. Asalkan jangan dengan alasan malas mengerjakan ekstraksi forceps karena selama pendidikan tidak pernah melakukannya, atau malas untuk menghadapi hebatnya laserasi yang ditimbulkannya, karena ekstraksi vakum pun dapat mengakibatkan leserasi yg hebat, terutama jika pemasangan cup tidak tepat.

Tetapi dengan melihat perbandingan – perbandingan diatas, secara kasar dapat dilihat bahwa ekstraksi vakum lebih berpihak pada keselamatan ibu, sedang ekstraksi forceps lebih berpihak pada keselamatan janin. Jadi mana yang harus kita pakai? Kita kembalikan kepada kebutuhan dan kondisi pada masing – masing kasus.

Bookmark and Share
  • Thanks dah mampir ...  memang mana yang dipakai, tergantung kepada operatornya :)

  • indiarto
    Yth TS Mas Nyol.
    Kalo aku sebenarnya dulu seneng forceps kalo pas stase luar kota hampir pasti forseps.sampai suatu ketika nightmare ada primimuda eklampsia kala II fetal distress tak forceps a/i ve gagal bayi plus ibuke morbid juga. sebenarnya enak forceps karena kekuatan penuh ada pada operator kalo ve gagal ada faktor alat juga. demikian.maturnuwun.
blog comments powered by Disqus

Search

Grey Zones in Ob/Gyn on Facebook