Persalinan pervaginam pada riwayat operasi sesar
Jan 8th, 2010
Seorang wanita yang pernah menjalani operasi sesar jika hamil lagi mempunyai 2 pilihan persalinan : operasi sesar lagi atau persalinan pervaginam (vaginal birth after cesarean section atau lebih keren disebut VBAC).
Seringkali sangat sulit menentukan apa yang harus diambil, mengingat kita tidak tahu bagaimana jalannya operasi terdahulu, jika kita yang melakukannya pun bukannya kita sudah lupa bagaimana kondisi dulu, apalagi kalo kita termasuk yg malas mengisi catatan medik
. Beberapa kali ketika melakukan operasi sesar kedua, kujumpai rahim yang sudah sangat tipis, kadang – kadang sudah tinggal 1 lapis tipis plica, atau bahkan sudah ada diskontinuitas jaringan.
Risiko terbesar dan utama yang paling ditakutkan dari persalinan dengan riwayat operasi sesar sebelumnya adalah Ruptur Uteri.
Menurut ACOG, wanita hamil dengan riwayat operasi sesar sebelumnya yang boleh menjalani persalinan pervaginam yaitu :
- 1 kali operasi sesar ebelumnya
- low-transverse cesarean delivery (irisan transversal di segmen bawah rahim)
- bukan karena faktor menetap seperti panggul sempit
- tidak ada riwayat operasi dinding rahim lainnya seperti miomektomi
- ada tenaga dokter yang memonitor persalinan dan sewaktu – waktu dapat melakukan operasi sesar cito
- tersedia tenaga anestesia dan tim operasi lainnya sewaktu – waktu
Tipe insisi operasi sebelumnya
Wanita yang hendak menjalani VBAC harus diketahui tipe irisan rahim pada operasi sebelumnya karena hanya insisi transperitoneal profunda yang boleh menjalani persalinan pervaginam. Irisan klasik atau T-incision harus dihindari. Seringkali pasien tidak tahu apa irisan yang telah diterimanya dulu. Jadi kita harus pintar – pintar melakukan anamnesis, adakah pesan – pesan khusus oleh dokter terdahulu. Bisa juga kita lihat indikasi operasi sesar sebelumnya. Kita harus curiga irisan klasik jika operasi terdahulu karena hidrosefalus, letak lintang.
Cara penjahitan uterus pada operasi sebelumnya
Memang masih menjadi kontroversi tersendiri, beberapa penelitian mengatakan tidak ada perbedaan risiko ruptur uteri pada penjahitan secara single atau double layer, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa penjahitan single layer berisiko 4 kali lipat mengalami ruptur uteri pada kehamilan berikutnya dibandingkan double layer. Jadi secara pribadi, aku menyukai penutupan secara double layer apalagi dengan ditambah jahitan lambert yg lebih rapi. Tetapi mungkin dengan pemilihan benang yang semakin bermutu tinggi misalkan dengan monosin dll akan dapat menurunkan risiko itu.
Lama jarak persalinan
Jarak persalinan dengan pelaksanaan operasi sesar sebelumnya juga menentukan risiko terjadinya ruptur uteri. Dikatakan jika jarak tersebut kurang dari 18 bulan maka risikonya 3 kali lebih besar dibandingkan dengan 18 bulan atau lebih.
Jumlah operasi sesar yang pernah dialami
Dua oeprasi sesar akan meningkatkan 2 kali lipat risiko ruptur uteri dibandingkan dengan 1 kali operasi sesar. Berarti jika lebih dari 2 … pastinya akan meningkat berlipat.
Jumlah persalinan sebelumnya setelah operasi sesar
Jika seorang ibu pernah mengalami operasi sesar, kemudian sesudahnya telah mengalami persalianan pervaginam (VBAC), maka keberhasilan persalinan pervaginam berikutnya akan lebih besar dengan bertambahnya jumlah persalinan pervaginam sebelumnya itu.
Indikasi operasi sesar sebelumnya
Indikasi operasi sebelumnya juga menentukan keberhasilan VBAC. Jika indikasi operasi sebelumnya karena faktor menetap seperti panggul sempit, jelas tidak boleh melakukan VBAC. Tetapi VBAC sering berhasil jika indikasi operasi sebelumnya adalah fetal distress, partus tak maju atau partus macet. Pada partus tak maju, VBAC akan mempunyai keberhasilan lebih tinggi jika operasi sebelumnya dilakuka pada pembukaan lebih dari 5 cm.
Kondisi penyulit lain
Kecurigaan bayi besar pada VBAC akan meningkatkan kejadian ruptur uteri. Sedangkan ibu obesitas akan menurunkan keberhasilannya.
Ultrasonografi Segmen Bawah Rahim
Ketebalan SBR, dapat diperiksa dengan USG
Induksi persalinan
Induksi persalinan bukan kontra indikasi mutlak
Pematangan serviks dengan misoprostol sebaiknya dihindari (Wing dkk (1998) dan Sciscione dkk (1998))
Menurut Alison G. Cahill (2008) :











