Persalinan pervaginam pada riwayat operasi sesar

Seorang wanita yang pernah menjalani operasi sesar jika hamil lagi mempunyai 2 pilihan persalinan : operasi sesar lagi atau persalinan pervaginam (vaginal birth after cesarean section atau lebih keren disebut VBAC).

Seringkali sangat sulit menentukan apa yang harus diambil, mengingat kita tidak tahu bagaimana jalannya operasi terdahulu, jika kita yang melakukannya pun bukannya kita sudah lupa bagaimana kondisi dulu, apalagi kalo kita termasuk yg malas mengisi catatan medik . Beberapa kali ketika melakukan operasi sesar kedua, kujumpai rahim yang sudah sangat tipis, kadang – kadang sudah tinggal 1 lapis tipis plica, atau bahkan sudah ada diskontinuitas jaringan.

Risiko terbesar dan utama yang paling ditakutkan dari persalinan dengan riwayat operasi sesar sebelumnya adalah Ruptur Uteri.

 

 

 

 

Menurut ACOG, wanita hamil dengan riwayat operasi sesar sebelumnya yang boleh menjalani persalinan pervaginam yaitu :

  • 1 kali operasi sesar ebelumnya
  • low-transverse cesarean delivery (irisan transversal di segmen bawah rahim)
  • bukan karena faktor menetap seperti panggul sempit
  • tidak ada riwayat operasi dinding rahim lainnya seperti miomektomi
  • ada tenaga dokter yang memonitor persalinan dan sewaktu – waktu dapat melakukan operasi sesar cito
  • tersedia tenaga anestesia dan tim operasi lainnya sewaktu – waktu

Tipe insisi operasi sebelumnya

Wanita yang hendak menjalani VBAC harus diketahui tipe irisan rahim pada operasi sebelumnya karena hanya insisi transperitoneal profunda yang boleh menjalani persalinan pervaginam. Irisan klasik atau T-incision harus dihindari. Seringkali  pasien tidak tahu apa irisan yang telah diterimanya dulu. Jadi kita harus pintar – pintar melakukan anamnesis, adakah pesan – pesan khusus oleh dokter terdahulu. Bisa juga kita lihat indikasi operasi sesar sebelumnya. Kita harus curiga irisan klasik jika operasi terdahulu karena hidrosefalus, letak lintang. 

Cara penjahitan uterus pada operasi sebelumnya

Memang masih menjadi kontroversi tersendiri, beberapa penelitian mengatakan tidak ada perbedaan risiko ruptur uteri pada penjahitan secara single atau double layer, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa penjahitan single layer berisiko 4 kali lipat mengalami ruptur uteri pada kehamilan berikutnya dibandingkan double layer. Jadi secara pribadi, aku menyukai penutupan secara double layer apalagi dengan ditambah jahitan lambert yg lebih rapi. Tetapi mungkin dengan pemilihan benang yang semakin bermutu tinggi misalkan dengan monosin dll akan dapat menurunkan risiko itu.

Lama jarak persalinan

Jarak persalinan dengan pelaksanaan operasi sesar sebelumnya juga menentukan risiko terjadinya ruptur uteri. Dikatakan jika jarak tersebut kurang dari 18 bulan maka risikonya 3 kali lebih besar dibandingkan dengan 18 bulan atau lebih.

Jumlah operasi sesar yang pernah dialami

Dua oeprasi sesar akan meningkatkan 2 kali lipat risiko ruptur uteri dibandingkan dengan 1 kali operasi sesar. Berarti jika lebih dari 2 … pastinya akan meningkat berlipat.

Jumlah persalinan sebelumnya setelah operasi sesar

Jika seorang ibu pernah mengalami operasi sesar, kemudian sesudahnya telah mengalami persalianan pervaginam (VBAC), maka keberhasilan persalinan pervaginam berikutnya akan lebih besar dengan bertambahnya jumlah persalinan pervaginam sebelumnya itu.

Indikasi operasi sesar sebelumnya

Indikasi operasi sebelumnya juga menentukan keberhasilan VBAC. Jika indikasi operasi sebelumnya karena faktor menetap seperti panggul sempit, jelas tidak boleh melakukan VBAC. Tetapi VBAC sering berhasil jika indikasi operasi sebelumnya adalah fetal distress, partus tak maju atau partus macet. Pada partus tak maju, VBAC akan mempunyai keberhasilan lebih tinggi jika operasi sebelumnya dilakuka pada pembukaan lebih dari 5 cm.

Kondisi penyulit lain

Kecurigaan bayi besar pada VBAC akan meningkatkan kejadian ruptur uteri. Sedangkan ibu obesitas akan menurunkan keberhasilannya.

Ultrasonografi Segmen Bawah Rahim

Ketebalan SBR, dapat diperiksa dengan USG

 

Induksi persalinan

Induksi persalinan bukan kontra indikasi mutlak
Pematangan serviks dengan misoprostol sebaiknya dihindari (Wing dkk (1998) dan Sciscione dkk (1998))

Menurut Alison G. Cahill (2008)  :
 

Bookmark and Share
  • Stella
    Bulan januari tahun 2010 bayi saya meninggal,proses melahirkan dengan operasi cesar.mau tanya berapa lama untuk bisa hamil lagi...
  • drnyol
    ada seorang konsultan yang mengatakan bahwa penyembuhan luka rahim sama dengan penyembuhan jaringan tubuh lunak lainnya yaitu hanya sekitar 2 minggu (tanpa komplikasi infeksi) ... so jika seorang ibu telah selesai masa nifas kurang lebih 40 hari, maka sebenarnya luka operasinya telah kuat dan aman untuk "dipakai kembali" ... jadi bisa dikatakan tanpa waktu menunggu-pun anda boleh hamil lagi kapan saja .... beberapa kali saya menjumpai ibu yang langsung hamil setelah persalinan sesar dan berhasil mencapai usia genap bulan dengan selamat .... hanya saja perlu diingat adanya risiko ruptur / pecah rahim jika hendak melahirkan secara pervaginam akan meningkat secara bermakna jika jarak dengan operasi sesar sebelumnya kurang dari 18 bulan .... so sekarang anda rencanakan saja apakah pada kehamilan berikutnya anda hendak menjalani persalinan pervaginam atau persalinan dengan operasi sesar kembali .... jika hendak melahirkan melalui jalan lahir maka tunggulah 1 tahun lalu mulai hamil kembali sehingga saat 9 bulan anda sudah melewati jarak interval 18 bulan terseut, tetapi jika hendak operasi sesar kembali, menurut saya anda boleh langsung hamil tanpa menunggu .... tetapi alangkah bijaksana jika anda juga memikirkan perawatan bayi anda sampai usia tertentu daripada anak anda tersebut kurang perhatian dengan hadirnya adik baru ... kecuali jika anda "kejar tayang" misalkan ... maaf ... mungkin bayi anda yg pertama meninggal atau karena masalah usia anda ....
blog comments powered by Disqus
line
footer