<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>drNyol - Grey Zone in Ob/Gyn</title>
	<atom:link href="http://drnyol.info/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://drnyol.info</link>
	<description>let&#039;s talk about the controversy in Obtetrics and gynecology ...</description>
	<lastBuildDate>Sat, 13 Feb 2010 21:40:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Ingin anak laki &#8211; laki atau perempuan?</title>
		<link>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fer/ingin-anak-laki-laki-atau-perempuan/</link>
		<comments>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fer/ingin-anak-laki-laki-atau-perempuan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Feb 2010 21:40:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>drnyol</dc:creator>
				<category><![CDATA[in FER]]></category>
		<category><![CDATA[Baby gender]]></category>
		<category><![CDATA[FER]]></category>
		<category><![CDATA[Jenis kelamin anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kehamilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://drnyol.info/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Mempunyai anak merupakan dambaan setiap pasangan suami istri. Ketika suatu pasangan sudah mempunyai anak satu, saat merencanakan kehamilan berikutnya, hampir semua pasangan menginginkan jenis kelamin anak yang berbeda dari yang pertama. Setiap pasangan yang telah mempunyai anak laki &#8211; laki, tentunya menginginkan anak perempuan pada kehamilan berikutnya, begitu pula sebaliknya jika telah mempunyai perempuan, pastinya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align="right" alt="memilih anak laki - laki atau perempuan" height="200" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2010/02/laki-atau-perempuan.jpg" vspace="10" width="200" />Mempunyai anak merupakan dambaan setiap pasangan suami istri. Ketika suatu pasangan sudah mempunyai anak satu, saat merencanakan kehamilan berikutnya, hampir semua pasangan menginginkan jenis kelamin anak yang berbeda dari yang pertama. Setiap pasangan yang telah mempunyai anak laki &#8211; laki, tentunya menginginkan anak perempuan pada kehamilan berikutnya, begitu pula sebaliknya jika telah mempunyai perempuan, pastinya mereka menginginkan anak kedua berjenis kelamin laki &#8211; laki. Seringkali akhirnya si istri harus rela mengalami banyak kehamilan demi menuruti keinginan mereka untuk mempunyai anak dengan jenis kelamin yang mereka inginkan.</p>
<p>Banyak cara yang dilakukan oleh pasangan &#8211; pasangan suami istri untuk mendapatkan jenis kelamin anak agar sesuai yang mereka inginkan. Dari cara &#8211; cara tradisional, cara ilmiah hingga cara kedokteran modern. Mungkin pada pasangan yang mempunyai ekonomi mapan dapat melakukan sperm washing kemudian inseminasi ataupun bahkan dengan cara bayi tabung. <span id="more-259"></span></p>
<p>Berikut ini ada beberapa cara ilmiah yang didasarkan atas kondisi keasaman jalan lahir yang didapat dengan jalan pengaturan waktu berhubungan, posisi berhubungan, pengaturan diit/konsumsi makanan, didasarkan pada pengaturan suhu tubuh,&nbsp; sampai cara biomedik. Mungkin dapat anda mempraktekkannya jika hendak memilih jenis kelamin dalam perencanaan kehamilan anda.</p>
<p><iframe src="http://docs.google.com/viewer?url=http%3A%2F%2Fdrnyol.info%2Fwp-content%2Fuploads%2F2010%2F02%2Fmemilih-jenis-kelamin-anak.pdf&#038;embedded=true" width="600" height="780" style="border: none;"></iframe></p>
<p>Tetapi yang perlu anda ingat bahwa, manusia berhak dan wajib berusaha &#8230;. tetapi tetap Allah SWT yang menentukan hasilnya. Apapun jenis kelamin anak kita, marilah kita jaga, rawat dan didik dengan sebaik &#8211; baiknya &#8230; <img alt=":)" src="http://drnyol.info/wp-content/plugins/fckeditor-for-wordpress-plugin/ckeditor/plugins/smiley/images/regular_smile.gif" title=":)" /><img alt=";)" src="http://drnyol.info/wp-content/plugins/fckeditor-for-wordpress-plugin/ckeditor/plugins/smiley/images/wink_smile.gif" title=";)" /><img alt="" src="http://drnyol.info/wp-content/plugins/fckeditor-for-wordpress-plugin/ckeditor/plugins/smiley/images/shades_smile.gif" title="" /><img alt="" src="http://drnyol.info/wp-content/plugins/fckeditor-for-wordpress-plugin/ckeditor/plugins/smiley/images/thumbs_up.gif" title="" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fer/ingin-anak-laki-laki-atau-perempuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Safe Abortion vs Unsafe Abortion</title>
		<link>http://drnyol.info/featured-articles/safe-abortion-vs-unsafe-abortion/</link>
		<comments>http://drnyol.info/featured-articles/safe-abortion-vs-unsafe-abortion/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 11:28:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>drnyol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[in Social Obstetrics]]></category>
		<category><![CDATA[Aborsi]]></category>
		<category><![CDATA[Kehamilan muda]]></category>
		<category><![CDATA[Safe abortion]]></category>
		<category><![CDATA[Unsafe abortion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://drnyol.info/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia, aborsi masih merupakan suatu hal yang sangat tabu. Kecuali tentunya dilakukan pada kasus &#8211; kasus medis yang berat misalkan penyakit jantung berat seperti Eisenmenger&#39;s syndrome yang jika kehamilannya dilanjutkan berarti seperti membiarkan si ibu bunuh diri. Membicarakan aborsi diperbolehkan atau tidak pasti sangat mengundang kontroversi yang hebat dari Ahli Medik, Ahli Kependudukan, Ahli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Indonesia, aborsi masih merupakan suatu hal yang sangat tabu. Kecuali tentunya dilakukan pada kasus &#8211; kasus medis yang berat misalkan penyakit jantung berat seperti Eisenmenger&#39;s syndrome yang jika kehamilannya dilanjutkan berarti seperti membiarkan si ibu bunuh diri. Membicarakan aborsi diperbolehkan atau tidak pasti sangat mengundang kontroversi yang hebat dari Ahli Medik, Ahli Kependudukan, Ahli Hukum maupun Ahli Agama. Tentunya setiap ahli mempunyai pegangan masing &#8211; masing dalam mempertahankan pendapatnya. Bahkan antara sesama ahli di bidangnya juga akan memiliki pandangan yang berbeda &#8211; beda dalam menyikapi aborsi ini.<br />
	<span id="more-253"></span><strong><br />
	Unsafe Abortion</strong><br />
	<img align="right" alt="aborsi tak aman" border="1" height="400" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2010/02/024.jpg" vspace="10" width="300" /><br />
	<strong>Pengertian Unsafe Abortion</strong><br />
	Yang dimaksud dengan aborsi tidak aman (Unsafe Abortion) adalah penghentian kehamilan yang dilakukan oleh orang yang tidak terlatih/kompeten dan menggunakan sarana yang tidak memadai, sehingga menimbulkan banyak komplikasi bahkan kematian.</p>
<p>	<strong>Aborsi Ilegal</strong><br />
	Aborsi tidak aman tidak selalu sama dengan aborsi ilegal. Aborsi ilegal adalah aborsi yang dilakukan bertentangan dengan peraturan perundang &ndash; undangan yang berlaku. Aborsi ilegal bisa saja dilakukan oleh tenaga dokter dan tenaga terlatih lainnya serta dilakukan di tempat yang memenuhi persyaratan kesehatan. Tindakan tersebut dari segi medis adalah aman dan berisiko rendah, tetapi tindakan ini bertentangan dengan hukum yang berlaku.&nbsp; Biasanya dari segi biaya adalah mahal karena ada unsur komersial atau mencari keuntungan.</p>
<p>	<strong>Penyebab</strong> <strong>Unsafe Abortion</strong><br />
	Umumnya aborsi yang tidak aman terjadi karena tidak tersedianya pelayanan kesehatan yang memadai. Apalagi bila aborsi dikategorikan tanpa indikasi medis, seperti korban perkosaan, hamil diluar nikah, kegagalan alat kontrasepsi dan lain-lain. Ketakutan dari calon ibu dan pandangan negatif dari keluarga atau masyarakat akhirnya menuntut calon ibu untuk melakukan pengguguran kandungan secara diam-diam tanpa memperhatikan resikonya .</p>
<p>	<strong>Fakta </strong><strong>Unsafe Abortion</strong><br />
	Meski pengguguran kandungan (aborsi) dilarang oleh hukum, tetapi kenyataannya terdapat 2,3 juta perempuan melakukan aborsi (Kompas, 3 Maret 2000). Masalahnya tiap perempuan mempunyai alasan tersendiri untuk melakukan aborsi dan hukumpun terlihat tidak akomodatif terhadap alasan-alasan tersebut, misalnya dalam masalah kehamilan paksa akibat perkosaan atau bentuk kekerasan lain termasuk kegagalan KB. Larangan aborsi berakibat pada banyaknya terjadi aborsi tidak aman (unsafe abortion), yang mengakibatkan kematian. Data WHO menyebutkan, 15-50% kematian ibu disebabkan oleh pengguguran kandungan yang tidak aman. Dari 20 juta pengguguran kandungan tidak aman yang dilakukan tiap tahun, ditemukan 70.000 perempuan meninggal dunia. Artinya 1 dari 8 ibu meninggal akibat aborsi yang tidak aman.</p>
<p>	<strong>Metode</strong> <strong>Unsafe Abortion</strong><br />
	Metode aborsi yang tidak aman yang umumnya digunakan di berbagai negara bervariasi, dari metode teknik medis lanjut yang digunakan oleh dokter sampai teknik tradisional berbahaya yang digunakan oleh dukun, teman, atau tetangga yang menolong atau oleh wanita hamil itu sendiri.</p>
<ul>
<li>Untuk para pelaku abortus yang tidak profesional, upaya yang dilakukan antara lain adalah memasukkan cairan ke dalam uterus. Cairan yang digunakan bervariasi, mulai dari air sabun sampai disinfektan rumah tangga yang dimasukkan melalui semprotan ataupun alat suntik. Di beberapa negara juga menggunakan pasta yang bersifat abortif yang mengandung zat iritatif.</li>
<li>Sediaan jamu dan obat-obatan per oral juga sering digunakan. Berbagai jamu dan obat yang diduga bersifat abortif dapat ditemukan di pasaran bebas di negara-negara berkembang. Di Bangladesh, obat-obat tersebut kemungkinan mengandung kina, permanganat, ergot, dan air raksa. Di Malaysia, ditemukan pil timah oksida dan minyak zaitun (Erica, 1994).</li>
<li>Metode lain yang relatif lebih berbahaya adalah memasukkan alat atau benda asing ke dalam rongga rahim. Di India digunakan pucuk wortel yang telah dikeringkan; di Philipin alat tesebut adalah pisang atau daun tumbuh-tumbuhan lokal kalachulchi. Di Ghana, digunakan ranting pohon comelina yang jika dimasukkan ke dalam rahim akan menyerap air dan mengembang membuka leher rahim serta menyebabkan abortus. Jenis lain adalah tanaman Jatropha yang mengandung bahan kimia korosif yang dapat menyebabkan abortus. Di Amerika latin, upaya abortus dilakukan dengan memasukkan ujung kateter yang lentur ke dalam rongga rahim. Ujung yang lain diikatkan di pangkal paha. Wanita tersebut kemudian disuruh berjalan sehingga ujung kateter yang berada di dalam rongga rahim bergoyang-goyang menggangu isi rahim dan merangsang abortus. Ada pula yang menggnakan cairan kina yang toksik pada bayi dan si ibu. Ada juga para wanita yang melakukan sendiri dengan memasukkan plastik berongga ke dalam rongga rahim, kemudian memasukkan alat atau kawat melalui plastik tersebut untuk mengorek rongga rahim.</li>
</ul>
<p>
	<strong>Komplikasi Unsafe Abortion</strong><br />
	Komplikasi yang sering terjadi akibat tindakan-tindakan yang tidak aman terhadap kehamilan yang tidak diinginkan misalnya dengan melakukan abortus provokatus oleh dukun, dengan meminum jamu-jamuan, ramuan. Pengakhiran kehamilan yang tidak aman menurut WHO yaitu pengakhiran kehamilan yang tidak dikehendaki dengan cara yang mempunyai resiko tinggi terhadap keselamatan jiwa perempuan tersebut sebab dilakukan oleh individu yang tidak mempunyai pengetahuan dan ketrampilan yang sangat diperlukan, serta memakai peralatan yang tidak memenuhi persyaratan minimal bagi suatu tindakan medis tersebut. Akibat dari tindakan yang tidak aman tersebut akan memberikan resiko infeksi, perdarahan, sisa hasil konsepsi yang tertinggal di dalam rahim dan perforasi yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian apabila tidak mendapatkan pertolongan yang segera.<br />
	&nbsp;&nbsp;&nbsp; <br />
	Di dunia setiap tahunnya diperkirakan 600.000 perempuan meninggal dunia karena sebab-sebab yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan.&nbsp; Sekitar 13% (78.000) dari kematian ibu karena tindakan aborsi yang tidak aman (The Alan Guttmacher Institute 1999).&nbsp; Aborsi tidak aman merupakan urutan ketiga penyebab kematian ibu di dunia (WHO 2000).<br />
	&nbsp;<br />
	Tidak pernah tersedia data yang pasti mengenai jumlah aborsi di Indonesia disebabkan tidak adanya ketetapan hukum, sehingga tidak dapat dilakukan pencatatan data mengenai tindakan aborsi terutama yang diselenggarakan secara tidak aman.&nbsp; Akibatnya, aborsi tidak aman tidak pernah tercatat sebagai penyebab resmi kematian ibu, karena terselubung dalam perdarahan dan infeksi, dua kategori penyebab yang menyebabkan lebih dari separuh (55%) kematian ibu .&nbsp; Analisis lebih jauh data SKRT 1995 menyebutkan aborsi berkontribusi terhadap 11,1% dari kematian ibu di Indonesia, atau satu dari sembilan kematian ibu.&nbsp; Angka sebenarnya mungkin jauh lebih besar lagi, seperti dikemukakan oleh Direktorat Jendral Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan RI yang secara informal memperkirakan kontribusi aborsi terhadap kematian ibu di Indonesia sebesar 50%.</p>
<p>	Padahal pemerintah Indonesia termasuk salah satu dari sejumlah negara yang menyatakan komitmen terhadap Program Aksi Konferensi Kependudukan (ICPD) di Kairo tahun 1994 untuk menurunkan risiko kematian ibu karena proses reproduksi (kehamilan, persalinan dan pasca persalinan). Lima tahun setelah ICPD Kairo 1994, ternyata Indonesia tidak memperlihatkan hasil yang bermakna atau tidak bisa bergeming dari posisi sebagai negara dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara.&nbsp; Perbandingan dengan negara-negara tetangga seAsia Tenggara menunjukkan bahwa AKI 373 per 100,000 kelahiran hidup 37 kali lebih tinggi dari pada Singapura (AKI 10), hampir 5 kali Malaysia (AKI 80), dan masih lebih tinggi dari Vietnam (AKI 160), Thailand (AKI 200), dan Filipina (AKI 280 per 100,000 kelahiran hidup). Apalagi kalau digunakan data perkiraan AKI yang dipakai UNICEF untuk Indonesia, yaitu 650 per 100,000 kelahiran hidup (Population Action International, The Reproductive Risk Index, 2001).</p>
<p>	Tingginya AKI mengindikasikan masih rendahnya tingkat kesejahteraan penduduk&nbsp; dan secara tidak langsung mencerminkan kegagalan pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi risiko kematian ibu.&nbsp; Peningkatan kualitas perempuan merupakan salah satu syarat pembangunan sumber daya manusia.<img align="right" alt="kehamilan tak diinginkan" border="1" height="300" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2010/02/1e125bc4b0494b2baa3609d858b015fe.jpg" vspace="10" width="200" /></p>
<p>	Strategi untuk menurunkan risiko kematian karena aborsi tidak aman adalah dengan menurunkan &lsquo;demand&rsquo; perempuan terhadap aborsi tidak aman.&nbsp; Ini dapat dimungkinkan bila pemerintah mampu menyediakan fasilitas keluarga berencana yang berkualitas dilengkapi dengan konseling.&nbsp; Konseling keluarga berencana dimaksudkan untuk membimbing klien melalui komunikasi dan pemberian informasi yang obyektif untuk membuat keputusan tentang penggunaan salah satu metode kontrasepsi yang memadukan aspek kesehatan dan keinginan klien, tanpa menghakimi.&nbsp; Bagi remaja yang belum menikah, perlu dibekali dengan pendidikan seks sedini mungkin sejak mereka mulai bertanya mengenai seks.&nbsp; Namun, perlu disadari bahwa risiko terjadinya kehamilan selalu ada, sekalipun pasangan menggunakan kontrasepsi.&nbsp; Bila akses terhadap pelayanan aborsi yang aman tetap tidak tersedia, maka akan selalu ada &lsquo;demand&rsquo; perempuan terhadap aborsi tidak aman.&nbsp; </p>
<p>	Kegagalan akibat tindakan yang tidak aman ini dapat terjadi juga dengan adanya kerusakan sel maupun jaringan pada hasil konsepsi yang akhirnya dapat menyebabkan kecacatan pada janin tersebut dan mungkin suatu kematian janin. </p>
<p>	Tindakan yang tidak aman ini adalah melawan hukum yang ada sehingga apabila dilakukan akan mendapatkan sanksi hukum. Menurut KUHP orang yang dapat dihukum adalah orang yang menggugurkan kandungan seorang wanita, juga wanita yang digugurkan kandungannya. Sedangkan dalam praktek yang tidak dihukum adalah dokter yang melakukan aborsi dengan indikasi medis, yaitu dengan tujuan untuk menyelamatkan jiwa atau menjaga kesehatan wanita yang bersangkutan. Persoalannya, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) kita yang merupakan peninggalan masa kolonialisasi Belanda melarang keras dilakukannya aborsi dengan alasan apapun sebagaimana diatur dalam pasal 283, 299 serta pasal 346 &#8211; 349. Bahkan pasal 299 intinya mengancam hukuman pidana penjara maksimal empat tahun kepada siapa saja yang memberi harapan kepada seorang perempuan bahwa kandungannya dapat digugurkan.&nbsp; Padahal, pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan tersebut dengan tujuan untuk melindungi perempuan dari kematian karena aborsi yang tidak aman karena saat itu ilmu kedokteran belum berkembang pesat dan kebanyakan perempuan meminta pelayanan kepada tenaga tradisional. </p>
<p>	Ditambah lagi dengan sumpah dokter Indonesia yang masih mengikuti sumpah Hiprokrates &ldquo;akan menghormati makhluk hidup insani sejak pembuahan dimulai.&rdquo; Kondisi ini ternyata tidak mampu mencegah perempuan untuk mencari pelayanan penghentian kehamilan.&nbsp; Terlihat dari banyaknya permintaan tindakan ini dilakukan.&nbsp; Status ilegal aborsi ini justru menyebabkan banyak perempuan yang tidak mendapatkan akses pelayanan aborsi yang aman.&nbsp; </p>
<p>	Karena hingga pada saat ini undang-undang yang ada di indonesia secara mutlak melarang adanya aborsi, maka perlu dipertegas dan diperjelas tentang definisi aborsi, bahwa aborsi juga dapat dilakukan dalam keadaan darurat, dan harus diperjelas jenis kedaruratan tersebut. Dengan adanya pengertian aborsi yang lebih jelas bukan hanya menolong dokter yang membantu aborsi, namun juga mempermudah bagi pihak kepolisian dalam melakukan penanganan penyidikan untuk perkara aborsi, sehingga aparat dapat bertindak dengan benar.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>
	<strong>Safe Abortion</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di beberapa tempat di Indonesia ada lembaga yang berusaha memerangi kejadian unsafe abortion tersebut dengan melaksanakan program Safe Abortion. Program ini biasanya bekerja sama dengan badan kesehatan dunia melalui <em><strong>Global Comprehensive Abortion Care (GCAC) Project</strong></em>-nya telah melaksanakan apa yang mereka sebut Safe Abortion, dalam upaya menurunkan angka Unsafe Abortion yang pada akhirnya diharapkan dapat menurunkan Angka Kematian Ibu di negara ini.</p>
<p>	<strong>Aborsi yang aman adalah aborsi yang memenuhi kriteria &ndash; kriteria sebagai berikut :</strong></p>
<ul>
<li>Dilakukan oleh dokter terlatih / mempunyai kompetensi</li>
<li>Dilaksanakan di RS / klinik yang ditunjuk</li>
<li>Tidak komersial</li>
<li>Mengikuti prosedur baku</li>
<li>Tidak melebihi usia kehamilan 12 minggu</li>
</ul>
<p>
	<strong>Agar supaya aborsi aman dapat dilaksanakan dan aman untuk provider, klien maupun lembaga, maka :</strong></p>
<ul>
<li>Klien harus menyetujui tindakan aborsi yang akan dilakukan oleh provider (perlu informed consent)</li>
<li>Tindakan yang akan dilakukan provider harus sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) yang sudah ditetapkan oleh lembaga. Hal ini pentinguntukmengingatkan provider agar supaya provider dalam melakukan tindakan aborsi tersebut, selalu hati-hati dan mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan, sehingga kemungkinan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, (sesuatu hal yang terjadi tersebut), bukan merupakan mal praktek (mal praktek adalah pelayanan yang tidak sesuai standar)</li>
<li>Lakukan hal pelayanan yang baik atau memuaskn kepada klien, karena dengan adanya pelayanan yang baik, klien&nbsp; merasa aman dan tidak dirugikan.</li>
<li>Tarif yang mudah dijangkau oleh segala kalangan, menunjukan bahwa pelayanan yang dilakukan tidak terkesan mencari untung.</li>
<li>Aborsi yang aman dilakukan di rumah Sakit atau klinik yang ditunjuk. Mempunyai keuntungan yaitu aborsi dapat dilakukan secara lebih aman karena rumah sakit dan klinik yang ditunjuk akan dimonitor keamanan dan kualitasnya.</li>
</ul>
<p>
	<strong>Peluang Aborsi di Indonesia</strong></p>
<p>Didalam undang-undang kesehatan no 36 tahun 2009 pada pasal 75 &#8211; 77 memberikan harapan baru untuk legalisasi aborsi dengan syarat &ndash; syarat tertentu jadi sangat menberikan peluang untuk aborsi legal. Yaitu aborsi dapat dilakukan dengan indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan. Bahkan telah diatur syarat aborsi legal yaitu sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis; oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri; dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan; dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri mengacu pada dua hukum di atas, jelas dapat disimpulkan bahwa peraturan di Indonesia sedah memberikan celah untuk pelayanan aborsi bisa dilakukan, tetapi masih terdapat banyak kerancuan akan pelaksanaan pelayanan ini terkait masalah hukum.</p>
<p>	Silahkan baca sendiri UU Kesehatan no 36 tahun 2009 pada pasal 75 &#8211; 77&nbsp; seperti dibawah ini :</p>
<p><iframe height="780" src="http://docs.google.com/viewer?url=http%3A%2F%2Fdrnyol.info%2Fwp-content%2Fuploads%2F2010%2F02%2FUU-36-Tahun-2009.pdf&amp;embedded=true" style="border: medium none ;" width="600"></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>	<strong>Penanganan Kehamilan Tak Diinginkan oleh salah satu lembaga pemerintah</strong><br />
	Penanganan Kasus Kehamilan Tak Diinginkan diutamakan dengan :</p>
<ul>
<li>Konseling remaja tersebut dan keluarga agar diusahakan untuk dinikahkan, untuk mengurangi beban psikologis</li>
<li>Meneruskan kehamilan yang tidak diinginkan sampai dengan aterm dan sampai terjadi persalinan. Setelah bayi tersebut lahir maka anak tersebut dapat diasuh sendiri (single parent) apabila hanya mempunyai orang tua tunggal, misalnya tidak diketahui ayah dari anak yang tidak diinginkan tersebut. Atau apabila tidak bisa maupun tidak sanggup untuk mengasuh dan merawat, maka anak dapat diasuh oleh keluarga lain, dapat dititipkan di panti asuhan, diadopsi oleh keluarga lain.</li>
<li>Bagi pasangan suami istri yang karena gagal KB maka dilakukan konseling untuk tetap meneruskan kehamilan dengan memperhatikan segi sosial ekonomi yang melatarbelakanginya.</li>
<li>Untuk kehamilan yang tidak diinginkan yang tidak menghendaki untuk melanjutkan kehamilannya dapat melakukan induksi haid secara aman (istilah halus dari Safe Abortion).</li>
</ul>
<p>
	Nah bagi yang tetap ngotot untuk tidak melanjutkan kehamilannya dapat dilayani disana dengan syarat dan indikasi sebagai berikut :</p>
<p>	<strong>Indikasi pemulihan haid / safe abortion :</strong></p>
<ul>
<li>Kegagalan KB</li>
<li>Kehamilan Risiko Tinggi: umur</li>
<li>Penyakit yang bisa mengancam jiwa: internis, riwayat obstetri jelek</li>
<li>Perkosaan</li>
<li>Incest</li>
</ul>
<p>
	<strong>Syarat pemulihan haid / safe abortion :</strong></p>
<ul>
<li>Pasangan suami istri sah</li>
<li>Pasangan hadir pada konseling</li>
<li>Usia kehamilan &lt; 8 minggu</li>
<li>Kontap pasca pelayanan</li>
<li>Inform Consent</li>
</ul>
<p>
	Nah <strong><em>apakah dengan program pemulihan haid yang aman ini dapat menurunkan angka kematian ibu? </em></strong>Masih butuh waktu untuk pembuktiannya. Mengingat bahwa fakta di masyarakat bahwa banyak sekali kejadian kehamilan yang tak diinginkan itu yang terjadi akibat hubungan suka &#8211; sama suka, pada remaja yang masih sekolah atau kuliah yang berarti tidak masuk indikasi untuk pemulihan haid tersebut. Dan juga seringkali seorang wanita yang hamil tanpa sengaja, yang entah karena malu atau berusaha menyembunyikan kehamilannya, maka akan datang pada petugas dalam usia kehamilan yang sudah lebih 2 bulan. Ataupun mungkin juga perlu sosialisasi dari program tersebut secara terang &#8211; terangan, mengingat UU Kesehatan pun telah membuka kesempatan, sehingga diharapkan setiap wanita yang mengalami kehamilan tak diinginkan agar datang tepat pada waktunya? <img src='http://drnyol.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>	Sebagai seseorang yang mempunyai riwayat infertilitas 5 tahun, saya tidak akan berusaha menggiring opini ke pro ataupun kontra. Silahkan bersikap sesuai prinsip dan keyakinan masing &#8211; masing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><iframe height="780" src="http://docs.google.com/viewer?url=http%3A%2F%2Fdrnyol.info%2Fwp-content%2Fuploads%2F2010%2F02%2Ffs_abortion.pdf&amp;embedded=true" style="border: medium none ;" width="600"></iframe></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://drnyol.info/featured-articles/safe-abortion-vs-unsafe-abortion/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bolehkah ibu hamil bepergian naik pesawat terbang?</title>
		<link>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fetomaternal/bolehkah-ibu-hamil-bepergian-naik-pesawat-terbang/</link>
		<comments>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fetomaternal/bolehkah-ibu-hamil-bepergian-naik-pesawat-terbang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 08:36:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>drnyol</dc:creator>
				<category><![CDATA[in Fetomaternal]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu hamil]]></category>
		<category><![CDATA[Kehamilan muda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://drnyol.info/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Semua maskapai penerbangan memiliki aturan-aturan untuk ibu hamil. Jadi, cek di maskapai penerbangannya sebelum memesan tiket. Menurut Maskapai penerbangan komersil, tidak ada risiko khusus pada wanta hamil yang sehat jika ingin bepergian dengan pesawat terbang begitu juga pada janinnya.
	Trimester pertama ( 1 &#8211; 12 mgg )
	Di trimester pertama, sebenarnya tidak ada larangan, hanya dikhawatirkan sebenarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua maskapai penerbangan memiliki aturan-aturan untuk ibu hamil.<img align="right" alt="" height="265" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2010/02/ibu-hamil-naik-pesawat.jpg" vspace="10" width="300" /> Jadi, cek di maskapai penerbangannya sebelum memesan tiket. Menurut Maskapai penerbangan komersil, tidak ada risiko khusus pada wanta hamil yang sehat jika ingin bepergian dengan pesawat terbang begitu juga pada janinnya.</p>
<p>	<strong>Trimester pertama ( 1 &#8211; 12 mgg )</strong><br />
	Di trimester pertama, sebenarnya tidak ada larangan, hanya dikhawatirkan sebenarnya adalah kelelahan dalam perjalanan tsb, apalagi jika mempunyai riwayat abortus sebelumnya. Naik pesawat artinya akan melakukan aktifitas turun naik tangga, jalan kaki di airport, angkat tas dsb. Asalkan dapat mengurangi aktifitas tersebut misalkan dengan didampingi suami akan lebih aman bagi kandungan. Memang ada pendapat bahwa perbedaan tekanan udara yang terlalu tinggi dan sebagainya akan menyebabkan keguguran, mengingat plasenta belum terbentuk dan berfungsi secara sempurna, tetapi belum ada penelitian yang mendukungnya.<span id="more-242"></span></p>
<p>	<strong>Trimester kedua ( 13 &#8211; 28 mg ) </strong><br />
	Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists, waktu paling aman untuk wanita hamil bepergian dengan pesawat terbang adalah selama trimester kedua (18 sampai 24 minggu). Trimester kedua merupakan periode dimana risiko kelahiran mendadak atau prematur lebih rendah. </p>
<p>	<strong>Trimester ketiga ( &gt; 28 mg )</strong><br />
	Banyak dokter merekomendasikan untuk tidak bepergian dengan pesawat terbang setelah kehamilan berusia 36 minggu atau lebih; atau jika ibu berisiko melahirkan prematur. Masalahnya adalah jika terjadi persalinan di dalam kabin pesawat, siapakah yang mau menolongnya? </p>
<p><strong>Risiko bepergian dengan pesawat pada trimester 3 antara lain :</strong></p>
<ul>
<li>partus di pesawat</li>
<li>tekanan rendah di ketinggian risiko thd oksigenasi uteroplasenter</li>
<li>risiko DVT (Deep Venous Trombosis) karena posisi duduk menetap dalam jangka waktu yang cukup lama</li>
<li>risiko Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) pada 6 bulan pertama kehidupan</li>
<li>risiko infeksi travelling</li>
</ul>
<p>
	<strong>Yang Tidak Boleh Terbang</strong></p>
<p>	Ibu hamil dengan kondisi tidak fit dapat meningkatkan risiko maka sebaiknya konsultasi dengan dokter sebelum bepergian dengan pesawat terbang. Semua kehamilan dengan risiko tinggi pastinya tidak diperkenankan bepergian dengan pesawat. <br />
	<strong>&nbsp;<br />
	Tips bagi ibu hamil</strong> <strong>yang hendak naik pesawat</strong></p>
<p>	Berikut beberapa tips untuk wanita hamil yang berencana hendak bepergian dengan pesawat terbang:<img align="right" alt="" height="299" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2010/02/hamil-dan-pesawat.jpg" vspace="10" width="200" /></p>
<ul>
<li>Minta didampingi suami, minimal untuk membawakan koper atau menggendongnya naik tangga <img src='http://drnyol.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</li>
<li>Mintalah untuk duduk bagian tengah pesawat-yang menawarkan tempat lebih dan nyaman atau dekat bagian sayap pesawat, yang lebih nyaman ketika terbang.</li>
<li>Kencangkan sabuk pengaman di perut bagian bawah, menyilang di bagian pundak kebawah.</li>
<li>Jika memungkinkan, bangun dan jalan setiap setengah jam untuk peregangan otot-otot dan melindungi dari penyumbatan pembuluh darah.</li>
<li>Minum banyak cairan. Kelembaban yang rendah di kabin dapat menimbulkan efek dehidrasi. </li>
</ul>
<p>
	<strong>Mengatasi Kekhawatiran Anda</strong></p>
<p>	Tekanan udara yang lebih rendah di kabin pesawat terbang memiliki efek minimal pada janin, Selama penerbangan, tekanan udara disesuaikan di ketinggian kira-kira antara 5000 dan 8000 meter dari atas permukaan laut. Meskipun wanita hamil dan bayinya memiliki lebih sedikit oksigen di darahnya daripada seharusnya pada level diatas laut, tubuh akan menyesuaikannya.</p>
<p>	Beberapa wanita hamil mengkhawatirkan tekanan pada radiasi elektromagnetik dari matahari ketika di ketinggian diatas laut. Meskipun tekanan meningkat pada ketinggian, ini masih lebih rendah dan tidak akan meningkatkan risiko kelahiran atau kelahiran mendadak. </p>
<p>	Yang penting bagi ibu hamil, janganlah ibu hamil bepergian dengan pesawat kecil berpenumpang 12 seperti di pedalaman Kalimantan atau Papua sana, dijamin bikin jantung bayi ikut berdetak tak karuan hehe &#8230;. or malah naik pesawat tempur &#8230; jelas itu tidak aman bagi siapapun haha &#8230;. kalo nyidam naik pesawat yang paling aman adalah naik pesawat yang parkir di museum <img src='http://drnyol.info/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fetomaternal/bolehkah-ibu-hamil-bepergian-naik-pesawat-terbang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persalinan pervaginam pada riwayat operasi sesar</title>
		<link>http://drnyol.info/featured-articles/persalinan-pervaginam-pada-riwayat-operasi-sesar/</link>
		<comments>http://drnyol.info/featured-articles/persalinan-pervaginam-pada-riwayat-operasi-sesar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jan 2010 04:49:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>drnyol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[in Fetomaternal]]></category>
		<category><![CDATA[Bekas SC]]></category>
		<category><![CDATA[Komplikasi persalinan]]></category>
		<category><![CDATA[Riwayat SC]]></category>
		<category><![CDATA[VBAC]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://drnyol.info/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[
Seorang wanita yang pernah menjalani operasi sesar jika hamil lagi mempunyai 2 pilihan persalinan : operasi sesar lagi atau persalinan pervaginam (vaginal birth after cesarean section atau lebih keren disebut VBAC).
Seringkali sangat sulit menentukan apa yang harus diambil, mengingat kita tidak tahu bagaimana jalannya operasi terdahulu, jika kita yang melakukannya pun bukannya kita sudah lupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/bekas-sc.png"><img align="left" alt="" class="alignright size-medium wp-image-207" height="300" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/bekas-sc-230x300.png" title="bekas sc" vspace="10" width="230" /></a></p>
<p>Seorang wanita yang pernah menjalani operasi sesar jika hamil lagi mempunyai 2 pilihan persalinan : operasi sesar lagi atau persalinan pervaginam (vaginal birth after cesarean section atau lebih keren disebut VBAC).</p>
<p>Seringkali sangat sulit menentukan apa yang harus diambil, mengingat kita tidak tahu bagaimana jalannya operasi terdahulu, jika kita yang melakukannya pun bukannya kita sudah lupa bagaimana kondisi dulu, apalagi kalo kita termasuk yg malas mengisi catatan medik <img alt="" src="http://drnyol.info/wp-content/plugins/fckeditor-for-wordpress-plugin/ckeditor/plugins/smiley/images/devil_smile.gif" title="" />. Beberapa kali ketika melakukan operasi sesar kedua, kujumpai rahim yang sudah sangat tipis, kadang &#8211; kadang sudah tinggal 1 lapis tipis plica, atau bahkan sudah ada diskontinuitas jaringan.</p>
<p>Risiko terbesar dan utama yang paling ditakutkan dari persalinan dengan riwayat operasi sesar sebelumnya adalah Ruptur Uteri.<span id="more-196"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menurut ACOG, wanita hamil dengan riwayat operasi sesar sebelumnya yang boleh menjalani persalinan pervaginam yaitu :</p>
<ul>
<li>1 kali operasi sesar ebelumnya</li>
<li>low-transverse cesarean delivery (irisan transversal di segmen bawah rahim)</li>
<li>bukan karena faktor menetap seperti panggul sempit</li>
<li>tidak ada riwayat operasi dinding rahim lainnya seperti miomektomi</li>
<li>ada tenaga dokter yang memonitor persalinan dan sewaktu &#8211; waktu dapat melakukan operasi sesar cito</li>
<li>tersedia tenaga anestesia dan tim operasi lainnya sewaktu &#8211; waktu</li>
</ul>
<p><strong>Tipe insisi operasi sebelumnya</strong></p>
<p><a href="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/tipe-insisi-seksio.png"><img alt="" class="alignright size-medium wp-image-208" height="247" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/tipe-insisi-seksio-300x247.png" title="tipe insisi seksio" vspace="10" width="300" /></a><a href="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/t-incision.png"><img alt="" class="alignright size-full wp-image-209" height="247" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/t-incision.png" title="t incision" vspace="10" width="223" /></a></p>
<p>Wanita yang hendak menjalani VBAC harus diketahui tipe irisan rahim pada operasi sebelumnya karena hanya insisi transperitoneal profunda yang boleh menjalani persalinan pervaginam. Irisan klasik atau T-incision harus dihindari. Seringkali&nbsp; pasien tidak tahu apa irisan yang telah diterimanya dulu. Jadi kita harus pintar &#8211; pintar melakukan anamnesis, adakah pesan &#8211; pesan khusus oleh dokter terdahulu. Bisa juga kita lihat indikasi operasi sesar sebelumnya. Kita harus curiga irisan klasik jika operasi terdahulu karena hidrosefalus, letak lintang.&nbsp;</p>
<p><strong>Cara penjahitan uterus pada operasi sebelumnya</strong></p>
<p><a href="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/single-layer.png"><img alt="" class="alignright size-full wp-image-210" height="144" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/single-layer.png" title="single layer" vspace="10" width="193" /></a><a href="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/double-layer.png"><img alt="" class="alignright size-full wp-image-211" height="143" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/double-layer.png" title="double layer" vspace="10" width="192" /></a></p>
<p>Memang masih menjadi kontroversi tersendiri, beberapa penelitian mengatakan tidak ada perbedaan risiko ruptur uteri pada penjahitan secara single atau double layer, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa penjahitan single layer berisiko 4 kali lipat mengalami ruptur uteri pada kehamilan berikutnya dibandingkan double layer. Jadi secara pribadi, aku menyukai penutupan secara double layer apalagi dengan ditambah jahitan lambert yg lebih rapi. Tetapi mungkin dengan pemilihan benang yang semakin bermutu tinggi misalkan dengan monosin dll akan dapat menurunkan risiko itu.</p>
<p><strong>Lama jarak persalinan</strong></p>
<p>Jarak persalinan dengan pelaksanaan operasi sesar sebelumnya juga menentukan risiko terjadinya ruptur uteri. Dikatakan jika jarak tersebut kurang dari 18 bulan maka risikonya 3 kali lebih besar dibandingkan dengan 18 bulan atau lebih.</p>
<p><strong>Jumlah operasi sesar yang pernah dialami</strong></p>
<p>Dua oeprasi sesar akan meningkatkan 2 kali lipat risiko ruptur uteri dibandingkan dengan 1 kali operasi sesar. Berarti jika lebih dari 2 &#8230; pastinya akan meningkat berlipat.</p>
<p><strong>Jumlah persalinan sebelumnya setelah operasi sesar</strong></p>
<p>Jika seorang ibu pernah mengalami operasi sesar, kemudian sesudahnya telah mengalami persalianan pervaginam (VBAC), maka keberhasilan persalinan pervaginam berikutnya akan lebih besar dengan bertambahnya jumlah persalinan pervaginam sebelumnya itu.</p>
<p><strong>Indikasi operasi sesar sebelumnya</strong></p>
<p>Indikasi operasi sebelumnya juga menentukan keberhasilan VBAC. Jika indikasi operasi sebelumnya karena faktor menetap seperti panggul sempit, jelas tidak boleh melakukan VBAC. Tetapi VBAC sering berhasil jika indikasi operasi sebelumnya adalah fetal distress, partus tak maju atau partus macet. Pada partus tak maju, VBAC akan mempunyai keberhasilan lebih tinggi jika operasi sebelumnya dilakuka pada pembukaan lebih dari 5 cm.</p>
<p><strong>Kondisi penyulit lain</strong></p>
<p>Kecurigaan bayi besar pada VBAC akan meningkatkan kejadian ruptur uteri. Sedangkan ibu obesitas akan menurunkan keberhasilannya.</p>
<p><strong>Ultrasonografi Segmen Bawah Rahim</p>
<p>	</strong>Ketebalan SBR, dapat diperiksa dengan USG</p>
<p><a href="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/sbr-uterus-normal-36-mg.png"><img align="middle" alt="" class="alignright size-medium wp-image-212" height="256" hspace="10" id="Tebal SBR uterus normal pada kehamilan 36 mg" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/sbr-uterus-normal-36-mg-300x256.png" title="sbr uterus normal 36 mg" vspace="10" width="300" /></a><a href="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/sbr-uterus-bekas-sc-36-mg.png"><img align="left" alt="" class="alignright size-medium wp-image-213" height="247" hspace="10" id="Tebal SBR uterus bekas SC pada kehamilan 36 mg" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/sbr-uterus-bekas-sc-36-mg-300x247.png" title="sbr uterus bekas sc 36 mg" vspace="10" width="300" /></a></p>
<p>
	<a href="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/defek-uterus-1.png"><img align="bottom" alt="" class="alignright size-medium wp-image-214" height="229" hspace="10" id="Defek SBR pada bekas SC" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/defek-uterus-1-300x229.png" title="defek uterus 1" vspace="10" width="300" /></a></p>
<p><a href="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/defek-uterus-2.png"><img align="middle" alt="" class="alignright size-medium wp-image-215" height="227" hspace="10" id="Defek SBR pada bekas SC" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/defek-uterus-2-300x227.png" title="defek uterus 2" vspace="10" width="300" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Induksi persalinan</strong></p>
<p>Induksi persalinan bukan kontra indikasi mutlak<br />
	Pematangan serviks dengan misoprostol sebaiknya dihindari (Wing dkk (1998) dan Sciscione dkk (1998))</p>
<p>Menurut Alison G. Cahill (2008)&nbsp; :<br />
	&nbsp;</p>
<p><a href="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/komplikasi-induksi.png"><img alt="" class="alignright size-full wp-image-216" height="204" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/komplikasi-induksi.png" title="komplikasi induksi" width="550" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://drnyol.info/featured-articles/persalinan-pervaginam-pada-riwayat-operasi-sesar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyidam &#8220;Parijoto&#8221;</title>
		<link>http://drnyol.info/uncategorized/nyidam-parijoto/</link>
		<comments>http://drnyol.info/uncategorized/nyidam-parijoto/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 15:33:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>drnyol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Around Us!]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Muria]]></category>
		<category><![CDATA[Kehamilan]]></category>
		<category><![CDATA[Kudus]]></category>
		<category><![CDATA[Parijoto]]></category>
		<category><![CDATA[Pengobatan tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://drnyol.info/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Buah Parijoto dengan nama latin Medinella speciosa L. merupakan oleh &#8211; oleh khas dari Gunung Muria Kudus. Oleh-oleh khas tersebut selalu menjadi pelengkap bagi peziarah, karena konon terkait dengan cerita Sunan Muria. Dikatakan Sunan Muria yang pernah terinspirasi membuat tembang karena buah parijoto. 
	Daun dan buah parijoto mempunyai kandungan bahan kimia saponin dan kardenolin, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Buah Parijoto dengan nama latin Medinella speciosa L. merupakan oleh &#8211; oleh khas dari Gunung Muria Kudus. Oleh-oleh khas tersebut selalu menjadi pelengkap bagi peziarah, karena konon terkait dengan cerita Sunan Muria. Dikatakan Sunan Muria yang pernah terinspirasi membuat tembang karena buah parijoto. </p>
<p>	Daun dan buah parijoto mempunyai kandungan bahan kimia saponin dan kardenolin, di samping itu buahnya juga<br />
	mengandung flavonoid dan daunnya mengandung tanin.<span id="more-198"></span></p>
<p>	<img align="left" alt="parijoto" border="1" class="alignright size-medium wp-image-200" height="300" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/parijoto-225x300.jpg" title="parijoto" vspace="10" width="225" />Khasiat dan pemanfaatan buah parijoto didalam sejarah pengobatan Jawa adalah dipakai untuk obat sariawan dan obat diare.<br />
	Untuk obat Sariawan buah parijoto segar sebanyak 5 gram, dicuci, ditumbuk halus dan larutkan dalam 100 ml air matang kemudian gunakan untuk berkumur-kumur, sedangkan sisanya diminum. Sedangkan untuk obat diare: daun parijoto segar sebanyak 20 gram, dicuci direbus. dengan 400 ml air sampai mendidih selama 15 menit, disaring, setelah dingin diminum 2 kali sehari pagi dan sore.</p>
<p>	Tapi entah darimana, buah yang hanya bisa ditemui di kawasan hutan Muria itu konon dipercaya dapat memberikan keturunan yang baik jika dimakan ibu hamil. Dikatakan bahwa ibu hamil yang ingin putranya ganteng atau putrinya cantik, makanlah buah Parijoto ini. </p>
<p>	Pasien &#8211; pasien hamil asal Jepara dan Kudus yang jika kutanya, banyak diantaranya yang memakannya untuk tujuan itu. Padahal kebanyakan mengatakan bahwa rasanya asam, pahit dan tidak enak jika dimakan langsung. Biasanya mereka menyarankan untuk dibuat rujak, pecel atau direbus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://drnyol.info/uncategorized/nyidam-parijoto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilihan persalinan pada riwayat infertilitas primer</title>
		<link>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-social-obstetrics/pilihan-persalinan-pada-riwayat-infertilitas-primer/</link>
		<comments>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-social-obstetrics/pilihan-persalinan-pada-riwayat-infertilitas-primer/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Dec 2009 02:23:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>drnyol</dc:creator>
				<category><![CDATA[in Social Obstetrics]]></category>
		<category><![CDATA[Infertilitas primer]]></category>
		<category><![CDATA[Operasi Sesar]]></category>
		<category><![CDATA[Penyulit persalinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://drnyol.info/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[Infertilitas rpimer adalah pasangan suami istri yang dengan berhubungan secara rutin tanpa menggunakan suami istri, belum mempunyai keturunan setelah 1 tahun berumah tangga. Jika pasangan tersebut akhirnya hamil, apalagi jika memperoleh kehamilannya tersebut setelah sekian lama berumah tangga, pastinya akan menjadikan riwayat infertilitas itu untuk menjadi precaution tersendiri dalam persalinannya. Aku sering menjumpai bahwa ibu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Infertilitas rpimer adalah pasangan suami istri yang dengan berhubungan secara rutin tanpa menggunakan suami istri, belum mempunyai keturunan setelah 1 tahun berumah tangga. Jika pasangan tersebut akhirnya hamil, apalagi jika memperoleh kehamilannya tersebut setelah sekian lama berumah tangga, pastinya akan menjadikan riwayat infertilitas itu untuk menjadi precaution tersendiri dalam persalinannya. Aku sering menjumpai bahwa ibu hamil dengan riwayat infertilitas pimer diperlakukan khusus dalam persalinanya, yaitu mungkin lebih sedikit agresif. Jika tidak ada penyulit &#8211; penyulit yang lain atau sebelum 41 minggu sudah memasuki proses persalinan (inpartu) maka pasien ini dapat melahirkan senormal mungkin. <span id="more-191"></span>Namun sebagai seseorang yang juga pernah mengalami infertilitas selama 4 tahun, dimana anakku pada akhirnya lahir secara sesar karena letak sungsang, aku akan lebih setuju jika pasien infertilitas dilakukan sesar jika datang dengan 1 atau lebih penyulit lain, misalkan datang dalam kondisi belum inpartu, datang dengan ketuban pecah dini, ketuban habis, kelainan letak, serotinus, IUGR, dan kontraindikasi obstetrik lainnya, atau penyulit lain seperti obesitas, hipertensi, usia yang ekstrim tua, ataupun kehamilannya didapat dengan Assisted Reproductive Technology. Sesar juga pasti kulakukan jika pasien tersebut dalam persalinannya mengalami penyimpangan seperti kemajuan lambat, partus tak maju, inertia uteri, ibunya tidak kooperatif, partus macet dll. Sebisa mungkin tidak akan kulakukan modifikasi persalinan dan operative vaginal delivery pada pasien seperti ini.</p>
<p>Dalam pemikiran saya, jika pasien riwayat infertilitas dilahirkan pervaginam maka akan dapat mencoba hamil lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, tidak harus menunggu 18 bulan lagi seperti jika dilakukan sesar. Belum lagi ada journal yang mengatakan bahwa <a href="http://journals.lww.com/greenjournal/Fulltext/2007/12000/Reduced_Fertility_After_Cesarean_Delivery__A.9.aspx" onclick="window.open(this.href, '', 'resizable=yes,status=yes,location=yes,toolbar=yes,menubar=yes,fullscreen=no,scrollbars=yes,dependent=no,width=500,height=500'); return false;">sesar sendiri dapat menurunkan fertilitas wanita</a>. Kemudian lagi risiko &#8211; risiko untuk kehamilan berikutnya.</p>
<p>Pada akhirnya aku sangat menghimbau persalinan pada dengan riwayat infertilitas ini harus diawasi lebih teliti, walaupun tidak berarti bahwa ibu yang tidak mengalami infertilitas tidak diawasi dengan baik &#8230; <img alt="" src="http://drnyol.info/wp-content/plugins/fckeditor-for-wordpress-plugin/ckeditor/plugins/smiley/images/shades_smile.gif" title="" /> Tetapi maksudku bahwa jika perjalanan persalinan tidak berjalan seperti yang diharapkan misalkan kemajuannya lambat tidak sesuai partograph atau kurva friedman, atau inertia uteri, atau partus macet dan peyulit &#8211; penyulit lainnya, maka lebih baik kita ambil jalan pintas dengan operasi sesar daripada mencoba cara pervaginam tetapi dengan risiko asfiksia bayi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-social-obstetrics/pilihan-persalinan-pada-riwayat-infertilitas-primer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekstraksi forceps atas indikasi ekstraksi vakum gagal, adakah?</title>
		<link>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fetomaternal/ekstraksi-forceps-atas-indikasi-ekstraksi-vakum-gagal-adakah/</link>
		<comments>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fetomaternal/ekstraksi-forceps-atas-indikasi-ekstraksi-vakum-gagal-adakah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 13:55:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>drnyol</dc:creator>
				<category><![CDATA[in Fetomaternal]]></category>
		<category><![CDATA[Ekstraksi forceps]]></category>
		<category><![CDATA[Ekstraksi vakum]]></category>
		<category><![CDATA[Operative vaginal delivery]]></category>
		<category><![CDATA[Partus pervaginam]]></category>
		<category><![CDATA[Persalinan tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://drnyol.info/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Pada operative vaginal delivery, baik ekstraksi vakum maupun ekstraksi forceps untuk penanganan partus macet, ibu yang tidak bisa mengejan, ibu yang kelelahan &#8230;. kadang &#8211; kadang gagal untuk melahirkan bayi.
Secara umum, ekstraksi vakum dikatakan gagal jika 3 kali tarikan bersamaan dengan kontraksi bayi belum lahir, 3 kali cup vakum terlepas dan 30 menit bayi belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada operative vaginal delivery, baik ekstraksi vakum maupun ekstraksi forceps untuk penanganan partus macet, ibu yang tidak bisa mengejan, ibu yang kelelahan &#8230;. kadang &#8211; kadang gagal untuk melahirkan bayi.</p>
<p>Secara umum, ekstraksi vakum dikatakan gagal jika 3 kali tarikan bersamaan dengan kontraksi bayi belum lahir, 3 kali cup vakum terlepas dan 30 menit bayi belum lahir &#8230;. tergantung mana yang lebih dulu dicapai. Sedangkan ekstraksi forceps dikatakan gagal jika kedua forceps tidak bisa terkunci, traksi percobaan gagal / kepala tidak tertarik, dan 3 kali tarikan bayi belum lahir &#8230; sebenarnya yang terakhir kebangetan jika forceps sudah terpasang dengan baik dan traksi percobaan berhasil, pastinya tidak ada CPD &#8230; dengan tarikan yang benar harusnya bayi bisa dilahirkan. <span id="more-151"></span></p>
<div id="youtube_gallery_1" class="youtube_gallery"><div class="youtube_gallery_divider"></div><br />
<div class="youtube_gallery_divider"></div><br clear="all" /></div>
<p>Ada konsultan saya yang bilang, bahwa tidak selayaknya ekstraksi vakum dan ekstraksi forceps menemui kegagalan asal kita bisa menilai kondisi parturien. Ekstraksi vakum dan forceps gagal &#8230;berarti kita tidak bisa menilai kondisi awal &#8230; kata beliau.</p>
<p>Seharusnya setiap kegagalan yang terjadi setelah ekstraksi vakum maupun ekstraksi forceps, akan dilakukan seksio sesarea untuk menyelamatkan bayi dan ibu. Nah, bagaimana jika kepala sudah di hodge IV, kaput sudah diluar vulva, tapi gak mau lahir juga hingga cup vakum terlepas 3 kali &#8230;. mungkin anda mengatakan &quot;masak sih gak bisa lahir?&quot; tapi suatu saat anda akan menjumpainya. Atau bagaimana jika kejadiannya saat kepala sudah hodge IV, fetal distress deselerasi, sedangkan respon time dari team operasi lebih dari 30 menit &#8230; apakah anda akan menunggu untuk memaksakan SC?</p>
<p>Belum lagi saat pelaksanaan SC dengan kepala yang sudah didasar panggul &#8230; betapa sulitnya untuk meluksir kepala keluar pelvis &#8230; dijamin tangan anda pegal seminggu <img alt=":D" src="http://drnyol.info/wp-content/plugins/fckeditor-for-wordpress-plugin/ckeditor/plugins/smiley/images/teeth_smile.gif" title=":D" />. Juga memudahkan robek ujung irisan sampai ke samping rahim, silahkan bayangkan perdarahan cabang2 arteri uterina. Dengan menunggu, kemungkinan bayi lahir dalam kondisi semakin jelek semakin besar.</p>
<p>So &#8230;. apakah salah jika vakum gagal dengan kondisi seperti diatas saya lanjutkan dengan ekstraksi forceps???&nbsp; Tujuannya demi kebaikan janin, mungkin dengan mempercepat kelahiran, kemungkinan tertolong lebih besar.</p>
<p>Disaat teman sejawat lain banyak yang menghindari forceps, saya malah suka untuk melatih skill tersebut <img alt=";)" src="http://drnyol.info/wp-content/plugins/fckeditor-for-wordpress-plugin/ckeditor/plugins/smiley/images/wink_smile.gif" title=";)" />&#8230; mungkin hanya karena saya suka sesuatu yang beda dengan orang lain ^_^&nbsp; &#8230;&nbsp; tapi juga melihat <a href="http://drnyol.info/featured-articles/ekstraksi-forceps-versi-ekstraksi-vakum-mcana-yang-menang/" onclick="window.open(this.href, '', 'resizable=yes,status=yes,location=yes,toolbar=yes,menubar=yes,fullscreen=no,scrollbars=yes,dependent=no,width=800,height=600'); return false;">p</a><a href="http://drnyol.info/featured-articles/ekstraksi-forceps-versi-ekstraksi-vakum-mcana-yang-menang/" onclick="window.open(this.href, '', 'resizable=yes,status=no,location=yes,toolbar=no,menubar=yes,fullscreen=no,scrollbars=yes,dependent=no,width=800,height=600'); return false;">erbandingan keuntungan dan kerugian ekstraksi vakum vs forceps juga</a>. Walaupun kadang memang ku dibuat panik dengan dalam dan panjangnya laserasi yang ditimbulkannya.</p>
<p>Memang, yang paling tepat adalah : jangan melakukan ekstraksi vakum atau forceps jika ragu &#8211; ragu akan keberhasilannya. Kata Rosulullah &#8230; tinggalkan hal yang meragukan. Tapi kita hanyalah manusia yang penuh keterbatasan, suatu saat kita akan menjumpai hal seperti ini. Prepare your self!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>9 Desember 2009 &#8211; Stase Obsos RSU Kartini Jepara<br />
	</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fetomaternal/ekstraksi-forceps-atas-indikasi-ekstraksi-vakum-gagal-adakah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekstraksi Forceps versi Ekstraksi Vakum, mana yang menang?</title>
		<link>http://drnyol.info/featured-articles/ekstraksi-forceps-versi-ekstraksi-vakum-mcana-yang-menang/</link>
		<comments>http://drnyol.info/featured-articles/ekstraksi-forceps-versi-ekstraksi-vakum-mcana-yang-menang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 10:48:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>drnyol</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[in Fetomaternal]]></category>
		<category><![CDATA[in Urogynecology]]></category>
		<category><![CDATA[Ekstraksi forceps]]></category>
		<category><![CDATA[Ekstraksi vakum]]></category>
		<category><![CDATA[Operative vaginal delivery]]></category>
		<category><![CDATA[Partus pervaginam]]></category>
		<category><![CDATA[Persalinan tindakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://drnyol.info/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Ekstraksi vakum dan ekstraksi forceps pada dasarnya sederajat,&#160; terkait dengan risiko trauma-nya, maka keduanya dilakukan pada persalinan hanya dengan indikasi yang tepat. Sebelum melakukannya kita harus benar &#8211; benar memeriksa kondisi parturien, misalnya faktor &#8211; faktor risiko yang ada, kecukupan luas panggul, taksiran besar janin dan tidak boleh dilupakan akan kemampuan dan pengalaman operator itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img align="left" alt="vakum vs forceps" class="alignnone size-medium wp-image-146" height="160" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/vakum-vs-forceps-300x240.jpg" title="vakum vs forceps" vspace="10" width="200" />Ekstraksi vakum dan ekstraksi forceps pada dasarnya sederajat,&nbsp; terkait dengan risiko trauma-nya, maka keduanya dilakukan pada persalinan hanya dengan indikasi yang tepat. Sebelum melakukannya kita harus benar &#8211; benar memeriksa kondisi parturien, misalnya faktor &#8211; faktor risiko yang ada, kecukupan luas panggul, taksiran besar janin dan tidak boleh dilupakan akan kemampuan dan pengalaman operator itu sendiri.</p>
<p>Ekstraksi vakum dan forceps umumnya sering dikerjakan pada : partus lama, partus yang diawali dengan induksi oksitosin, riwayat operasi sesar sebelumnya dan beberapa penyakit sistemik yang membuat itu tidak boleh terlalu banyak mengejan seperti hipertensi, asthma dll.<span id="more-142"></span></p>
<p>Ekstraksi vakum dan forceps selalu dibutuhkan untuk : ibu yang kelelahan, tdak bisa mengejan dengan baik, penyakit jantung, pada kondisi janin &quot;non-reassuring fetal heart rate&quot; atau sering disebut fetal distress, dan pada kondisi obstetrik seperti partus macet, deep transverse arrest (DTA), POPP.</p>
<p>Ekstraksi vakum dan forceps tidak boleh dikerjakan pada presentasi janin selain vertex (belakang kepala), janin dengan kepala belum engaged (curiga CPD), posisi kepala yang tidak diketahui, prematuritas sebelum 34 minggu, gangguan pembekuan darah yang sudah diketahui sebelumnya.</p>
<p>Ekstraksi vakum dan forceps harus dipertimbangkan dengan benar jika dilakukan pada ibu dengan obesitas atau Dm, janin makrosomia, partus lama terkait risiko distosia bahu.</p>
<p>Walaupun ada istilah vakum/forceps tinggi dan tengah&nbsp; &#8230; saat ini keduanya sudah ditinggalkan terkait komplikasi trauma yang sangat besar terhadap ibu maupun janin. Hanya ekstraksi vakum dan forceps letak rendah yang boleh dikerjakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Perbandingan antara Ekstraksi Vakum dan Ekstraksi Forceps<br />
	</strong></p>
<p><u>Keamanan terhadap Ibu :</u><img align="right" alt="vacuum delivery" class="alignnone size-medium wp-image-145" height="190" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/vacuum-delivery-300x285.jpg" title="vacuum delivery" vspace="10" width="200" /></p>
<ul>
<li>Risiko terjadi distosia janin 2 kali lebih besar pada ekstraksi vakum</li>
<li>Risiko perdarahan postpartum akan lebih meningkat pada penggunaan forceps</li>
<li>Kebutuhan anestesia pada ekstraksi vakum lebih sedikit (22 vs 31%)</li>
<li>Risiko laserasi jalan lahir dan laserasi perineum derajat 3 dan 4 (ruptur total) jelas jauh lebih tinggi pada ekstraksi forceps</li>
<li>Rasa nyeri perineum pada 24 jam pasca persalinan pun pada ekstraksi foceps meningkat (15 vs 9%) akan tetapi derajat nyeri selama persalinan dikatakan sama</li>
<li>Kerusakan sfingter endoanal (dilihat dengan USG endoanal) juga dikatakan sama</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><u>Keamanan pada bayi :</u><img align="right" alt="ekstraksi forceps" class="alignnone size-medium wp-image-144" height="201" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/ekstraksi-forceps-299x300.jpg" title="ekstraksi forceps" vspace="10" width="200" /></p>
<ul>
<li>Kejadian cephal hematoma jauh lebih tinggi pada pemakaian cup vakum (10 vs 4%)</li>
<li>Perdarahan retina mata juga lebih tinggi pada vakum (49 vs 33%)</li>
<li>Hyperbilirubinemia pada neonatal lebih sering terjadi setelah ekstraksi vakum</li>
<li>Nilai APGAR score tidak berbeda secara signifikan</li>
<li>Angka trauma kulit kepala dan wajah, kebutuhan fototerapi, kematian perinatal, lama perawatan di RS, gangguan pendengaran dan penglihatan pada neonatal dikatakan sama</li>
<li>Kelainan &#8211; kelainan lain yang mungkin terjadi seperti trauma saraf facial, abrasi kornea, memar dan laserasi wajah mungkin lebih tinggi pada forceps, tetapi trauma yang mengancam jiwa bayi seperti hematoma sub-galeal dan perdarahan intra-kranial jauh lebih tinggi pada ekstraksi vakum</li>
<li>Efek jangka panjang meliputi gangguan saraf dan kecerdasan yang diakibatkan penggunaan ekstraksi vakum dan forceps dikatakan tidak berbeda dengan partus spontan.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><u>Efektifitas<br />
	</u></p>
<ul>
<li>Walaupun ekstraksi vakum dan ekstraksi forceps mempunyai keberhasilan yang tinggi jika dilakukan oleh operator yang cakap (83-94% vs 85-92%) tetapi kegagalan penggunaannya jauh lebih tinggi pada ekstraksi vakum (12 vs 7%)</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Review<br />
	</strong></p>
<p>Saat ini ketika saya belajar sebagai residen, ekstraksi forceps sudah banyak ditinggalkan, ekstraksi vakum mendominasi persaingan diantara keduanya. Padahal ketika saya dulu menjadi coass stase obsgin tahun 1999/2000 dulu, setiap hari saya melihat residen melakukan ekstraksi forceps. Saya tidak tahu dengan pasti kenapa bisa begitu, apakah memang kemajuan tehnologi instrumen vakum sudah maju dengan ditemukannya model &#8211; model baru, tetapi alasan klasik memang risiko trauma jalan lahir yang hebat menjadi kambing hitam. Asalkan jangan dengan alasan malas mengerjakan ekstraksi forceps karena selama pendidikan tidak pernah melakukannya, atau malas untuk menghadapi hebatnya laserasi yang ditimbulkannya, karena ekstraksi vakum pun dapat mengakibatkan leserasi yg hebat, terutama jika pemasangan cup tidak tepat.</p>
<p>Tetapi dengan melihat perbandingan &#8211; perbandingan diatas, secara kasar dapat dilihat bahwa ekstraksi vakum lebih berpihak pada keselamatan ibu, sedang ekstraksi forceps lebih berpihak pada keselamatan janin. Jadi mana yang harus kita pakai? Kita kembalikan kepada kebutuhan dan kondisi pada masing &#8211; masing kasus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://drnyol.info/featured-articles/ekstraksi-forceps-versi-ekstraksi-vakum-mcana-yang-menang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin punya anak?</title>
		<link>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fer/ingin-punya-anak/</link>
		<comments>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fer/ingin-punya-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 16:46:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>drnyol</dc:creator>
				<category><![CDATA[in FER]]></category>
		<category><![CDATA[Conceive]]></category>
		<category><![CDATA[FER]]></category>
		<category><![CDATA[Infertilitas]]></category>
		<category><![CDATA[Kehamilan risiko tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[Komplikasi kehamilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://drnyol.info/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Seorang wanita PIII AII, 42 tahun, riwayat seksio sesarea anak ketiga karena partus tak maju, dengan mempunyai penyakit hipertensi kronik, datang kontrol di poli kandungan setelah menjalani kuretase atas indikasi abortus inkompletus 1 bulan yang lalu. Si ibu datang dengan maksud &#34;meminta obat penyubur kandungan&#34; karena masih ingin punya anak lagi &#8230; dimana beliau belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang wanita PIII AII, 42 tahun, riwayat seksio sesarea anak ketiga karena partus tak maju, dengan mempunyai penyakit hipertensi kronik, datang kontrol di poli kandungan setelah menjalani kuretase atas indikasi abortus inkompletus 1 bulan yang lalu. Si ibu datang dengan maksud &quot;meminta obat penyubur kandungan&quot; karena masih ingin punya anak lagi &#8230; dimana beliau belum mempunyai anak laki &#8211; laki. Ditambah lagi embel &#8211; embel &quot;jamkesmas&quot; pada kartu kontrolnya &#8230;. ???</p>
<p>Saya jadi berpikir &#8230;. sebegitu berartikah jenis kelamin anak itu? &#8230; anak &#8211; anakku pun perempuan semua <img alt=":P" src="http://drnyol.info/wp-content/plugins/fckeditor-for-wordpress-plugin/ckeditor/plugins/smiley/images/tounge_smile.gif" title=":P" />. Apakah yang harus kulakukan dengan si ibu ini? <span id="more-138"></span></p>
<p>Memang keinginan punya anak adalah hak asasi setiap manusia &#8230;. bahkan kewajiban untuk menyambung generasi. Tetapi dengan sebegitu banyaknya faktor risiko yang ada pada dirinya &#8230;. apakah selayaknya aku menurutinya?</p>
<p>Kalo kita review ulang &#8230; memang dengan memberikan obat penyubur untuk seseorang berusia kepala empat seperti beliau sangat kecil keberhasilannya &#8230; tetapi jika berhasil &#8230; bagaimana dengan risiko &#8211; risiko yang akan dialami si ibu dan janin-nya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ok &#8230; mari kita ulas jika si ibu ini berhasil hamil. Risiko selama kehamilan yang mungkin dia alami : </p>
<ul>
<li>saat hamil muda : dengan usia tua, hipertensi, maka risiko keguguran pun sangat besar</li>
<li>saat hamil tua : risiko terjadi peningkatan tekanan darah dengan meningkatnya umur kehamilan pun besar, apalagi risiko terjadi preeklampsia yang jelas akan meningkatkan morbiditasnya. Riwayat bekas operasi SC akan meningkatkan risiko ruptur spontan selama kehamilan meningkat tua.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagaimana persalinannya &#8230; yang jelas akan lebih membuat kita was -was. </p>
<ul>
<li>dengan usia tua, sering terjadi inertia uteri, pada akhirnya membutuhkan obat pacu yang berisiko ruptur. belum lagi seringnya terjadi retensio plasenta, risiko atonia uteri yang akan berakibat &quot;berdarah &#8211; darah&quot; yang mengancam jiwa.</li>
<li>dengan hipertensi, apalagi dengan riwayat bekas operasi SC sebelumnya, membutuhkan tindakan peringan kala 2 untuk membantunya dan meningkatkan kemungkinan diakhiri dengan operasi kembali.</li>
<li>kalau dilakukan operasi kembali, bagaimana keadaan jantungnya? bagaimana dengan perlengketan bekas operasi terdahulu, dan kemungkinan atonia yang besar &#8230; akan membuat kita ekstra deg &#8211; degan.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Risiko terhadap janin : </p>
<ul>
<li>usia ibu yang tua akan meningkatkan kejadian cacat kongenital pada janin yang dikandungnya. </li>
<li>Hipertensi pada ibu meningkatkan kejadian IUGR pada janin. </li>
<li>Tindakan yang mungkin dilakukan selama persalinan, akan meningkatkan morbiditas bayi baru lahir.</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan segala risiko yang mungkin terjadi, apakah sewajarnya jika kita memberikan penyubur padanya? apalagi mengingat label jamkesmas &#8230; bukannya mau diskriminatif &#8230;. tapi dengan status miskin yang disandangnya &#8230; apakah selayaknya ditambah beban satu orang anak lagi. Apalgi dengan kemungkinan2 yang bisa terjadi seperti diatas &#8230;. berapa beban pemerintah yang harus diberikan?</p>
<p>Kuberikan edukasi seperti diatas-pun si ibu tetap keukeuh dengan pendirian untuk mempunyai anak lagi, dengan pathokan banyak orang seusia dia di daerahnya yang hamil dengan selamat. </p>
<p>&nbsp;</p>
<p>9 Desember 2009</p>
<p>Stase Obsos / RSU Kartini Jepara</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-fer/ingin-punya-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mola Hidatidosa (Hamil Anggur)</title>
		<link>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-gynecology/mola-hidatidosa-hamil-anggur/</link>
		<comments>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-gynecology/mola-hidatidosa-hamil-anggur/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 11:46:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>drnyol</dc:creator>
				<category><![CDATA[in Gynecology]]></category>
		<category><![CDATA[1st trimester]]></category>
		<category><![CDATA[Hamil anggur]]></category>
		<category><![CDATA[Kehamilan muda]]></category>
		<category><![CDATA[Khoriokarsinoma]]></category>
		<category><![CDATA[Mola hidatidosa]]></category>
		<category><![CDATA[Molar pregnancy]]></category>
		<category><![CDATA[Mole hydatidiform]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://drnyol.info/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Mola Hidatidosa (MH) disebut juga Hydatidiform Mole, Vesicular Mole, Hydatid Mole, Hydatidiform Degeneration of the Chorion
	Gambaran umumnya meliputi :degenerasi hidropik stroma villi khorialis, Proliferasi trofoblas, dan berkurangnya pembuluh darah villi.
	Ada 2 macam kelainan yaitu MH Komplit dan MH Parsial

MOLA HIDATIDOSA KOMPLIT : hasil pembuahan yang tidak normal, tidak terdapatnya mudigah (embrio) ataupun janin (fetus), maupun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mola Hidatidosa (MH) disebut juga Hydatidiform Mole, Vesicular Mole, Hydatid Mole, Hydatidiform Degeneration of the Chorion</p>
<p>	<a href="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/Gyn_Abnormal_Incomplete_Hydatidiform_Mole_Color.jpg"><img align="right" alt="" class="alignright size-medium wp-image-48" height="181" hspace="10" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/Gyn_Abnormal_Incomplete_Hydatidiform_Mole_Color-300x181.jpg" title="Gyn_Abnormal_Incomplete_Hydatidiform_Mole_Color" vspace="10" width="300" /></a>Gambaran umumnya meliputi :degenerasi hidropik stroma villi khorialis, Proliferasi trofoblas, dan berkurangnya pembuluh darah villi.</p>
<p>	Ada 2 macam kelainan yaitu MH Komplit dan MH Parsial</p>
<ol>
<li>MOLA HIDATIDOSA KOMPLIT : hasil pembuahan yang tidak normal, tidak terdapatnya mudigah (embrio) ataupun janin (fetus), maupun tali pusat, dan selaput amnion</li>
<li>MOLA HIDATIDOSA PARSIAL : terdapat mudigah atau janin baik hidup ataupun mati, tali pusat dan selaput amnion.</li>
</ol>
<p><span id="more-46"></span>&nbsp;</p>
<p>	<strong>Faktor risiko</strong></p>
<ol>
<li>FAKTOR UMUR : risiko MH paling rendah pada kelompok umur 20-35 tahun. risiko MH naik pada kehamilan remaja &lt; 20 tahun,Naik sangat tinggi pada kehamilan remaja &lt; 15 tahun, kira-kira 20 x lebih besar. tinggi pada umur &gt; 40 tahun,naikan sangat menyolok pada umur = 45 tahun</li>
<li>FAKTOR RIWAYAT KEHAMILAN MH SEBELUMNYA ?Wanita MH sebelumnya, punya risiko lebih besar naiknya kejadian MH berikutnya</li>
<li>FAKTOR KEHAMILAN GANDA ?mempunyai risiko yang meningkat untuk terjadinya MH</li>
<li>FAKTOR GRAVIDITAS ?Risiko kejadian MH makin naik,dengan meningkatnya graviditas. (kontroversial)</li>
<li>FAKTOR KEBANGSAAN / ETNIK ?wanita kulit hitam meningkat,dibanding wanita lainnya. Euroasian ? turun dua kali lipat dibanding wanita Cina, India atau Malaysia.</li>
<li>FAKTOR GENETIKA? frekuensi Balance Tranlocation, wanita dengan MH komplit lebih banyak dibandingkan dengan yang didapatkan pada populasi normal</li>
<li>FAKTOR MAKANAN DAN MINUMAN ?angka kejadian MH tinggi diantara wanita miskin, diet yang kurang protein ? kelainan genetik pada kromosom.(kontroversi)</li>
<li>FAKTOR SOSIAL EKONOMI ?resiko MH tinggi pada sosial ekonomi rendah (kontroversi)</li>
<li>FAKTOR LAIN : Faktor hubungan keluarga/consanguinity, Faktor merokok, Faktor toksoplasmosis.</li>
</ol>
<p>	<strong>Pathogenesis</strong></p>
<ul>
<li>Tidak sempurnanya aliran darah fetus (&ldquo;fetal circulatori inadequacy&rdquo;) yang terjadi pada sel telur patologik, yaitu pada hasil pembuahan dimana embrionya mati kehamilan 3-5 minggu, pembuluh darah villi tidak berfungsi ? penimbunan cairan dijaringan mesenkhim villi.</li>
<li>Struktur trofoblas abnormal ?hiperplasia, displasia, neoplasia.</li>
<li>Fungsi abnormal?absorbsi cairan yang berlebihan kedalam villi ? proses penekanan ? kerusakan pembuluh darah? kematian bayi.</li>
<li>Adanya gangguan dari pertahanan imonologis terhadap trofoblas.</li>
<li>Adanya kelainan sitogenetik. Dimana terdapat sel telur patologik yang tidak mempunyai kromosom maternal (&ldquo;empty egg&rdquo;)</li>
</ul>
<p>
	&nbsp;</p>
<p>	Menurut DR. Dr. Andrijono, SpOG(K) dari Fak Kedokteran UI, perkembangan jaringan mola salah satunya disebabkan oleh defisiensi vitamin A.</p>
<p>	&nbsp;</p>
<p>	<img alt="proliferasi sel trofoblas menjadi ganas" class="alignnone size-full wp-image-54" height="300" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/proliferasi-sel-trofoblas-menjadi-ganas.jpg" title="proliferasi sel trofoblas menjadi ganas" width="400" /><br />
	&nbsp;</p>
<p>
	<strong>Tanda dan gejala</strong></p>
<ul>
<li>Amenore</li>
<li>Pembesaran uterus</li>
<li>Perdarahan pervaginam dan nyeri perut bawah</li>
<li>Pengeluaran Gelembung Mola</li>
<li>Gestosis/Toksemia / Pregnancy Induced Hypertension / Toxaemia Like Syndrome</li>
<li>Kelainan Kelenjar Tiroid</li>
</ul>
<p>	<strong>Pemeriksaan klinis</strong></p>
<ul>
<li>Palpasi abdomen Teraba uterus membesar,tidak teraba bagian janin,gerakan janin, balotemen</li>
<li>Auskultasi Tidak terdengar djj</li>
<li>Periksa dalam vagina uterus membesar, Bagian bawah uterus lembut dan tipis, serviks terbuka dapat diketemukan gelembung MH, perdarahan, sering disertai adanya Kista Teka Lutein Ovarium (KTLO)</li>
<li>Pemeriksaan dengan sonde uterus (Acosta Sison)? MH hanya ada gelembung-gelembung yang lunak tanpa kulit ketuban&nbsp; sonde uterus mudah masuk sampai 10 cm tanpa adanya tahanan</li>
<li>Pungsi melalui dinding perut / omniosentesis / guiffredas test / aspirasi test</li>
</ul>
<p>
	&nbsp;<br />
	<strong>Pemeriksaan radiologi</strong></p>
<ul>
<li>Foto Abdomen MH tidak tampak kerangka janin. Dilakukan setelah umur kehamilan 16 minggu (ada yang menganjurkan setelah</li>
<li>Amniografi/histerografi&nbsp; cairan kontras lewat transabdominal / transkutaneus atau transervikal kedalam rongga uterus, akan menghasilkan amniogram atau histerogram yang khas pada kasus MH, yang disebut sebagai sarang tawon/typical honeycomb pattern/honeycomb</li>
</ul>
<p>	<strong>USG</strong></p>
<ul>
<li>Typical Molar Pattern/Classic Echogram Pattern? pola gema yang difus ?gambaran badai salju/kepingan salju/snowstorm</li>
<li>Atypical molar pattern/Atypical echogram pattern? adanya perdarahan diantara jaringan mola.</li>
<li>Janin? MH KOMPLIT tidak didapatkan janin, MH PARSIAL Plasenta yang besar dan luas, kantong amnion kosong atau terisi janin. Janin masih hidup dengan gangguan pertumbuhan &amp; kelainan kongenital, atau sudah mati</li>
<li>Kista Teka Lutein Ovarium (KTLO), biasanya besar, multilokuler, dan sering bilateral.</li>
</ul>
<p>
	PEMERIKSAAN HCG (HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN) ?kadar HCG yang tetap tinggi &amp; naik cepat setelah hari ke 100 (dihitung sejak gestasi / hari pertama haid terakhir )</p>
<p>	SITOGENETIK ?MH komplit ( 92- 96% ) konstitusi kromosomnya mempunyai kariotipe diploid (46 XX) MH parsial kebanyakan kromosomnya triploidi (69 XXY) dan beberapa kasus 92 XXY.</p>
<p>	&nbsp;<br />
	<strong>Patologi anatomi</strong></p>
<ul>
<li>Makroskopis ?Gambaran khas MH berupa kista / gelembung dengan berbagai macam ukuran, Dindingnya tipis, kenyal, berwarna putih jernih, berisi cairan. Tangkai melekat pada endometrium. Bila tangkainya terlepas, terjadi perdarahan.</li>
<li>Mikroskopis ?Stroma villi mengalami degenerasi hidropik, yang tampak sebagai kista,Proliferasi trofoblast ( baik sel Langhans / sitotrofoblast maupun sinsisiotrofoblast ), sehingga terbentuk beberapa lapisan,Tidak ada atau berkurangnya pembuluh darah pada villi.</li>
</ul>
<p>	<strong>Klasifikasi</strong></p>
<p>	<strong>Klasifikasi histopatologi</strong></p>
<p>	<strong>KLASIFIKASI SARWONO PRAWIROHARDJO DKK. :</strong></p>
<ul>
<li>Mola hidatidosa,</li>
<li>Korikarsinoma villosum</li>
<li>Korikarsinoma non villosum</li>
</ul>
<p>
	<strong>KLASIFIKASI FIGO<br />
	</strong></p>
<ul>
<li>Hydatidiform Mole.</li>
<li>Invasive Hole.</li>
<li>Choriocarcinoma.</li>
<li>Placental Site Trophoblastic Tumor.</li>
<li>Other ( Please specify in remarks ).</li>
<li>UnknoNn ( Not microscopically verified ).</li>
</ul>
<p>
	<strong>KLASIFIKASI WHO</strong></p>
<ul>
<li>Molahidatidosa (komplet dan parsial)</li>
<li>Mola Invasif</li>
<li>Koriokarsinoma</li>
<li>Plasental site tropoblastic tumor</li>
<li>Trophoblastic tumor, Miscellaneuous (Exaggerated placentalsite, placsite nodule or plaque)</li>
<li>Unclasified trophoblastic lesion</li>
</ul>
<p>
	<strong>Klasifikasi klinis</strong></p>
<p>	&nbsp;<strong>KLASIFIKASI FIGO 2000:</strong></p>
<ul>
<li>Stage I : Tumor terbatas pada Uterus</li>
<li>Stage II : Tumor meluas keorgan genital lainnya</li>
<li>Stage III : Tumor metastasis ke paru-paru denganatau tanpa perluasan genital.</li>
<li>Stage IV : Distant metastases ( other than lung ).</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>
	<strong>&nbsp;Diagnosis banding</strong></p>
<ul>
<li>Diagnosis banding uterus yang ukurannya lebih besar dari pada umur kehamilan ? hidramnion, kehamilan multipel,dan uterus hamil disertai adanya mioma uteri.</li>
<li>Diagnosis banding perdarahan uterus dan nyeri perut pada trimester I atau trimester II kehamilan ?abortus mengancam &amp; abortus incompletus</li>
<li>Diagnosis banding pemeriksaan sonde ?Kehamilan biasa sebelum 20 minggu , Kematian janin intra uterine , Solusio plasenta &amp; missed abortion</li>
<li>Diagnosa banding pemeriksaan USG ? Missed abortion, Massa dirongga panggul, Massa plasenta yang besar pada kehamilan ganda, Kematian janin dalam rahim</li>
</ul>
<p>	<strong>Terapi</strong></p>
<ul>
<li>PERBAIKAN KEADAAN UMUM ? anemia yang berat, gangguan penjendalan darah, pre eklampsi &amp; eklampsi, tirotoksikosis &amp; krisis tiroid, harus diatasi lebih dahulu</li>
<li>PENGELUARAN ( EVAKUASI ) GELEMBUNG MOLA dengan cara : DILATASI &amp; KURETASE didilatasi batang laminaria atau dengan dilatator hegar ? evakuasi memakai cunam abortus, dilanjutkan dengan memakai sendok kuret atau vakum kuret (suction curettage), HISTEROTOMI ABDOMINAL ? tindakan pengosongan isi kavum uteri dengan sayatan pada korpus uteri bagian depan. Biasanya perabdominal atau HISTEREKTOMI ? Pengeluaran gelembung MH dengan histerektomi dikerjakan pada wanita yang sudah mendekati menopause, dan sudah mempunyai jumlah anak yang cukup, Wanita menopause meskipun belum mempunyai anak, perforasi uterus, Perdarahan pervaginam yang hebat (JADI PENGANGKATAN RAHIM BUKAN TERAPI MOLA SECARA LANGSUNG)</li>
<li>INDUKSI EKSPULSI DENGAN OBAT OBATAN ?oksitosin, prostaglandin / PgE2 dan injeksi intra uterine dengan larutan garam fisiologis / NaCl 0,9 % hipertonis ?sekarang sudah ditinggalkan / tidak dianjurkan lagi.</li>
<li>SITOSTATIKA PROFILAKSIS ? mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya keganasan,Macam sitostatika yang digunakan antara lain Methotrexate dan Actinomisin D.</li>
<li>TERAPI TERHADAP KISTA TEKA LUTEIN OVARIUM ? tidak membutuhkan pengobatan. Terapi pembedahan terhadap KTLO dilakukan hanya bila ada komplikasi.</li>
<li>TERAPI TERHADAP KRISIS TIROID apabila terjadi, dengan obat Beta bloking agent: propanolol dan oxprenolo, mengatur frekwensi jantung, jantung dapat bekerja efektif, Kardiotonika ( kalau terdapat payah jantung ), Usaha untuk menurunkan panas badan, dan Obat antitiroid, misalnya : Prophylthiouracil, Carbamazol, Kalium Jodida. Evakuasi jaringan trofoblast , dilakukan bila keadaan telah menjadi euthyroid. pengeluaran jaringan trofob last, maka pengaruh tiroid cepat kembali normal.</li>
<li>IMUNOTERAPI Imunoterapi diberikan sebagai adjuvant, Beberapa cara pengobatan imunologi yang pernah digunakan terhadap MH antara lain yaitu : Transplantasi antigen ( ABO &amp; HLA ), Imunoterapi spesifik dengan &quot; paternal antigen &quot;, Rangsangan imunologi non spesifik Contohnya yaitu : BCG (BACILUS CALMETTE GUERIN</li>
</ul>
<p>&nbsp;</p>
<p>	<strong>Pengawasan lanjut</strong></p>
<p>	Tujuan pengawasan lanjut ? mengetahui sedini mungkin adanya perubahan keganasan, Lamanya berkisar antara 6 bulan sampai 3 tahun</p>
<p>	ANAMNESIS,kunjungan ulang: Perdarahan pervaginam yang tidak teratur, Perdarahan dari tempat lainnya, Kelainan susunan saraf pusat dan Gejala kelainan paru-paru.<br />
	PEMERIKSAAN PERUT &amp; PANGGUL Untuk mencari adanya subinvolusi uterus, kista teka lutein ovarium, dan metastasis ke vagina.Tanda-tanda adanya keganasan antara lain :<br />
	Adanya perdarahanDalam keadaan normal harus tidak ada perdarahan 7 atau 8 hari setelah evakuasi MH.<br />
	Uterus tetap besar/sub involusi, atau bertambah besarnya uterus yang tidak normal. Dalam keadaan normal uterus harus involusi sempurna pada akhir minggu ke 4 setelah evakuasi ).<br />
	Adanya massa di panggul.<br />
	Adanya benjolan berwarna ungu (&ldquo;purplish nodule&quot;) di vagina.<br />
	PEMERIKSAAN HCG,Setelah evakuasi MH, terjadi penurunan cepat kadar HCG.<br />
	&nbsp;&nbsp;&nbsp; * Pola penurunan HCG normal.<br />
	&nbsp;&nbsp;&nbsp; * Pola penurunan HCG abnormal, yang menunjukkan dugaan kuat adanya keganasan, yaitu :<br />
	&nbsp;&nbsp;&nbsp; * Kadar HCG yang tetap tinggi ( &quot; PERSISTENT &quot; )<br />
	&nbsp;&nbsp;&nbsp; * Penurunan kadar HCG mendatar ( &quot; PLATEAU &quot; )<br />
	&nbsp;&nbsp;&nbsp; * Kadar HCG yang sudah pernah negatip mengalami kenaikan lagi (SECONDARY RISE)<br />
	&nbsp;&nbsp;&nbsp; * FOTO THORAX, yang pertama harus dikerjakan selama pemeriksaan Karena paru-paru merupakan tempat metastasis yang paling sering pada penyakit trofoblast metastatik, Sampai kadar HCG menjadi negatip. Pemeriksaan foto thorax dilakukan tiap bulan.</p>
<p>
	<strong>Prognosis</strong>, tergantung kepada : Penyulit yang menyertai serta Adekuat atau tidaknya pengelolaan</p>
<p>	Umumnya kematian pada MH disebabkan karena: Perdarahan, Preklampsi dan eklampsi, Infeksi, Perforasi dinding uterus pada waktu tindakan, Emboli paru, Krisis tiroid.</p>
<p>	Risiko jangka panjang yang paling utama pada penderita pasca MH adalah tetap berlanjutnya aktivitas trofoblast sebaga KORIOKARSINOMA</p>
<p>
	<strong>FAKTOR PROGNOSIS UNTUK BERKEMBANGNYA NTGG PASCA MH</strong></p>
<ul>
<li>Faktor ukuran besarnya uterus.</li>
<li>Faktor kadar HCG sebelum ( pra ) evakuasi .</li>
<li>Faktor perdarahan pervaginam.</li>
<li>Faktor hasil pemeriksaan patologi anatomi.</li>
<li>Faktor umur penderita.</li>
<li>Faktor MH berulang.</li>
<li>Faktor Suku bangsa / ethnic / ras</li>
<li>Faktor umur kehamilan.</li>
<li>Faktor gestosis.</li>
<li>Faktor graviditas / paritas.</li>
<li>Faktor kadar hemoglobin.</li>
<li>Faktor emboli trofoblast ke paru-paru,</li>
<li>DIC &amp; Udema paru paru akut.</li>
<li>Faktor golongan darah.</li>
<li>Faktor metastasis.</li>
<li>Faktor cara pengobatan.</li>
<li>Faktor steroid &amp; kontrasepsi oral</li>
<li>Faktor khemoterapi profilaksis</li>
<li>Faktor kista teka lutein ovarium</li>
</ul>
<p>
	Menurut Prof. Dr. Soetoto, SpOG(K) dari FK Undip (alm) pencegahan perkembangan mola hidatidosa menjadi keganasan trofoblas dapat dilakukan dengan pemberiansuntikan imunisasi BCG. Sedangkan menurut DR. Dr. Andrijono, SpOG(K) dari FKUI, dapat dengan diberikan Vitamin A dosis tinggi.</p>
<p>	<img alt="perubahan mola hidatidosa menjadi ganas" class="alignnone size-full wp-image-53" height="299" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/perubahan-mola-hidatidosa-menjadi-ganas.jpg" title="perubahan mola hidatidosa menjadi ganas" width="400" /></p>
<p>	&nbsp;</p>
<p>	<img alt="efek vitamin a pada jaringan mola hidatidosa" class="alignnone size-full wp-image-47" height="299" src="http://drnyol.info/wp-content/uploads/2009/12/efek-vitamin-a-pada-jaringan-mola-hidatidosa.jpg" title="efek vitamin a pada jaringan mola hidatidosa" width="400" /></p>
<p>	&nbsp;</p>
<p>	<em>Tulisan ini kupersembahkan untuk kakakku tercinta di Yogyakarta</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://drnyol.info/obgyn-grey-zone/in-gynecology/mola-hidatidosa-hamil-anggur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
