Biduk – biduk, tempat yang akan selalu kurindukan (Dokter PTT bagian 1)
Kecamatan Biduk – biduk, ujung timur dari Kabupaten Berau. Sebuah wilayah dengan luas ………. dan penduduk yang tidak terlalu banyak, hanya sekitar …… Kita dapat mencapainya selama 7 jam perjalanan naik taxi kijang menempuh jalan darat dari Tanjung Redeb ibukota Berau. Bisa kita lihat rumah – rumah penduduk yang cuma 1 atau 2 baris di kanan dan kiri jalan yang membentang dari Batu Putih sampai dengan Teluk Sulaeman, dengan ujung berakhir di Pelabuhan Teluk Sulaeman dengan Pos Angkatan Laut-nya. Ditambah beberapa wilayah yang tak terjangkau jalan darat, Teluk Sumbang dan Pulau Balikukup. Mungkin sekarang wilayah itu sudah terpecah dengan rencana perluasan Batu Putih menjadi kecamatan sendiri sekarang (ketika aku meninggalkan daerah itu akhir 2005 masih menjadi wacana).
Selama 2 tahun aku dan istriku berdua “mengabdikan” tenaga, waktu dan ilmu-ku sebagai Dokter Pegawai Tidak Tetap disana, dengan penuh suka dan dukanya. Secara materi, tidak banyak yang bisa kudapatkan disana, kalo tidak bisa dibilang jauh dari harapan saat berangkat PTT dari Jawa dengan penuh impian tentang Kalimantan Timur. Memang disayangkan PT Daisy Timber yang menjadi satu – satunya harapan harus kolaps dan tidak bisa bangkit kembali. Secara keilmuan pun, tidak banyak pengalaman yang bisa kudapat, seperti dokter – dokter umum lainnya sebatas batuk, pilek, mencret, dan malaria. Paling – paling sesekali merawat pasien stroke, malaria berat, atau abortus di Ruang Rawat Inap. Tetapi dilihat dari pengalaman hidup ataupun bermasyarakat, banyak sekali manfaat yang bisa kupetik dari sana. Dari masalah internal seperti bagaimana mengatasi perbedaan pendapat antar staf puskesmas, bagaimana mengakali staf malas yang “penuh akal” dalam mencari alasan untuk tidak mematuhi kewajiban kerja, sampai bagaimana memaksakan perawat agar tidak merawat pasien di rumah sedangkan puskesmas rawat inap sudah sedemikian bagus dibuat dibiarkan kosong. Atau masalah eksternal seperti menghadapi konflik dengan kepala desa yang sok tahu tentang dana kesehatan dengan memaksakan agar setiap pasien yang dirawat di puskesmas harus gratis…..gak papa sih asal dia mau memberi uang lembur perawat jaga yang belum dialokasikan dari dinas.
Aku dan istriku tinggal di sebuah rumah panggung dari kayu kepunyaan dinas, yang menurutku cukup bagus dan besar untuk kami berdua, bersama 3 buah rumah dinas perawat, tepat di sebelah kiri puskesmas. Rumahku menghadap ke Selat Makassar yang tepinya hanya 20 langkah dari pintu rumah (erosinya sudah hampir mencapai belakang dapur rumah dinas perawat seberang jalan yang berhadapan dengan rumahku). Sehingga saat musim obak besar, debur dan gemuruh angin-nya mengalahkan suara TV volume maksimal. Yang sayangnya bagusnya rumah dinas tidak diikuti penyediaan isi rumah yang memadai maupun kendaraan dinas yang bagus. Selama di Biduk terpaksa sehari – hari aku memakai motor Alfa yang tinggal rangka saja, tanpa lampu maupun rem depan. Mobil Puskesmas Keliling Isuzu Panther yang reyot, setiap jalan 1 km harus berhenti untuk memompa kran solar. (untungnya dokter penggantiku langsung mendapat mobil puskel Ford Ranger double gardan). Untuk mengatasi sepi, kubeli TV dengan parabolanya, PS-1 dan sekotak mie, sehingga rumahku tak pernah sepi dari anak – anak dan pemuda desa. Yah selama disana memang kami mengalami masalah infertilitas, hampir 4 tahun menikah tanpa hasil seorang anak pun. Pernah kami memeriksakan diri ke dokter di Samarinda, dengan menumpang kapal dagang nelayan setempat. Bukannya lebih cepat, 28 jam harus kutempuh di tengah ombang – ambing gelombang, sampai untuk makanpun aku tidak kuat bangun. Jadi karena alasan waktu dan biaya akhirnya pengobatan itu tidak dapat kulanjutkan.
Menu sehari – hari cukup menarik. Pagi hari makan lauk ikan laut goreng, siang hari sayur ikan laut, malam hari ikan laut bakar. Memang hanya ikan laut yang mudah dan murah disitu, dengan 5 ribu rupiah sudah cukup untuk satu hari. Sering kita dapat ikan kakap, barakuda atau yang lebih ber”harga” ikan kerapu merah atau ikan “Sunu”, komoditas ekspor jurusan korea dan jepang. Sayur – sayuran sangat terbatas, karena penduduk Biduk – biduk yang mayoritas keturunan suku – suku di Sulawesi berjiwa pelaut sehingga jarang yang mau bertani sayur, yang mereka tanam hanyalah kelapa, yang mungkin lebih tahan terhadap terjangan gerombolan babi hutan. Sayur hanya didapat dari “Lelek – lelek” (orang – orang jawa transmigran) dari Kecamatan Talisayan, yang menjualnya dengan sepeda motor, sayangnya sering belum sampai ke tempatku, tempe-pun sudah habis. Yang tidak akan kudapati di Jawa adalah di Biduk aku sering merasakan lembutnya daging rusa yang memang lebih mudah didapat dibandingkan daging sapi atau ayam. Ibaratnya jika kita ingin makan daging sapi atau ayam, maka kita harus membeli satu ekor dan memotongnya sendiri.
Musuh utama bagi istriku disana adalah “Agas” seekor lalat kecil yang berumah di bonggol – bonggol batang kelapa yang busuk, berkeliaran setiap siang hari, meski ada musimnya, yang membuat gatal kulit yang ditempelinya, semakin digaruk dan lecet, maka mereka akan semakin merubunginya. Biar dengan lotion anti nyamuk pun mereka masih nekat. Akhirnya penyelesaiannya adalah dengan memasang kelambu, beli “kristik” dan manik – manik, jika sedang musim agas, sepulang dari puskesmas maka bersemedilah istriku dalam kelambu sambil menyulam kristik atau menyusun manik menjadi tas – tas kecil, yang akhirnya menjadi kenang – kenangan untuk para tetangga.
Hari – hari sepi kuhabiskan waktu dengan ngantor di puskesmas, kemudian sore hari ikut main bola volly, malamnya seminggu minimal 2 kali bulutangkis dengan para staf, tetangga, bapak – bapak polisi atau staf kecamatan. Selain untuk kegiatan rutin juga sebagai latihan karena setiap Agustus-an kita selalu mengikuti event pertandingan olahraga dari bulutangkis, ping pong, volly sampai sepakbola, walaupun tidak pernah sekalipun kita menang lebih dari dua pertandingan. Kuingat tujuh belasan pertama kami melawan tim gabungan polisi-staf kecamatan sebagai partai pembukaan sekaligus partai lucu – lucuan, kami menang termmasuk dengan sebuah gol yang aku sarangkan dengan gaya sekelas Fernando Torres hehehe …. Saat bulan purnama sering kita manfaatkan dengan memancing ke dermaga Bangkuduan atau Teluk Sulaeman ataupun melaut bersama pemilik long boat yang sering kita sewa untuk puskesmas keliling. Jika bulan gelap pergilah kita ke Pantai Harapan untuk “menanjuk” kepiting di pantai yang jika sedang surut kita bisa berjalan ke tengah sampai 500m untuk mencari kepiting rajungan yang masih sangat mudah untuk kita dapatkan. Kalo beruntung kita bisa menemukan ikan besar semacam ikan pari yang tersesat ke dangkalan, asal jangan sampai kita menginjak ekornya saja, dijamin melepuh dan teriak – teriak sampai pingsan dengan sendirinya.
Di sela – sela kesibukan harian itu, masih kusempatkan untuk “meracuni” para staf puskesmas dengan budaya “komputerisasi”. Kebetulan aku mendapat satu set komputer gress beserta pendukungnya, yang kuinstall dengan segala macam games, isi lagu – lagu, instal program pengolah gambar dan video. Alhasil banyak staf perawat terutama yang muda teracuni dengan tergiur untuk membeli komputer sendiri – sendiri. Sayangnya aku tidak sekalian nyambi jualan saja heheh… Yah setidaknya ada sedikit keterampilan yang bisa kutransferkan disitu. Terakhir ketika aku bertemu salah seorang perawat gigi saat PIT POGI 17 di Balikpapan bulan Juli 2008 lalu dia cerita sudah membuka usaha sampingan cetak foto digital, perawat yang lain membuka usaha fotocopy dengan scanner, ada yang melayani pengisian ringtones dan gambar display handphone (kebanyakan anak muda Biduk mempunyai HP walaupun untuk menggunakannya mereka harus jalan – jalan ke Tanjung Redeb dulu hehe), yang lain membuka usaha rekam momen pengantin ke video cd. Ada juga yang berani melayani servis komputer dengan metode asal bongkar, coba dengan piranti dari komputer lain, kemudian pasang lagi seperti yang dulu sering kuajarkan. Lumayan kan.
Biduk – biduk, wilayah terpencil di tepi Selat Makassar, dengan penerangan dan pengadaan air bersih yang masih memprihatinkan. Jaringan telepon yang mengandalkan telpon satelit yang membuat biaya wartel sangat tinggi. Listrik kecamatan mengandalkan pembangkit tenaga diesel yang hanya hidup dari jam 6 sore sampai dengan 12 malam. Hanya bulan puasa saja lumayan diperpanjang sampai jam 6 pagi. Jadi kalo ingin menonton liga Italia atau Inggris kesukaanku, atau sekedar ssssstt … iseng menonton “midnight hot”-nya FTV, terpaksa sore hari aku harus menyiapkan 5 liter solar untuk menghidupkan diesel punya puskesmas. Air PDAM mengalir 2 hari sekali. Digilir misalkan hari ini mengalir ke arah barat dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang, maka hari besok kearah timur, begitu bergantian. So kita harus menyediakan tong – tong penampungan air supaya tetap bisa mandi 2 kali sehari. Aku ingat waktu 2 bulan PDAM menyatakan bahwa mesin penyedot air rusak, aku terpaksa mempekerjakan anak – anak tetangga untuk membersihkan sumur tua yang ber-air tawar beberapa meter di kebun kelapa belakang rumah, sehingga aku harus memikul air setiap sorenya 5 – 10 kali bolak – balik. Untungnya Kapolsek yang melihat kesengsaraanku itu berbaik hati dengan menginstruksikan seorang pengusaha kayu setempat untuk membawakan sebuah pompa air “Panasonic” untukku, baru dan gratis.
Tetapi dibalik itu, aku sangat enjoy menghabiskan waktu PTT disana. Aku masih dapat merasakan bahwa kehadiranku sangatlah dibutuhkan dan dihargai oleh penduduk setempat. Jika mendapat undangan pengantin, sunatan atau pengajian pun, aku selalu mendapat kehormatan untuk menempati tempat duduk khusus di barisan depan bersama Pak Camat, Kapolsek, Kepala – kepala Kampung dan Sesepuh lainnya. Walaupun kadang – kadang aku merasa risih sendiri dengan segala perlakuan itu, apalagi bgitu diminta untuk menyanyi di panggung, langsung ancang – ancang kabur deh.
Tulisan ini kudedikasikan untuk teman2 staf Puskesmas, Kecamatan dan Polsek Biduk – biduk serta masyarakat Biduk – biduk yang telah menerima, menemani, membantu dan berbagi selama kujalankan tugas keseharian sebagai dokter PTT
Related articles