Puskesmas keliling
Dec 6th, 2009
Puskesmas keliling (Dokter PTT bagian 2)
Pelaksanaan puskesmas keliling merupakan salah satu kegiatan yang kusenangi. Karena disamping pelayanan kesehatan sebagai tujuan utama, hal ini bisa menjadi sarana jalan – jalan refreshing untuk mengusir kejenuhan hidup di daerah terpencil. Untuk desa – desa yang dekat puskesmas keliling bisa dijalankan masing – masing 1 kali setiap bulannya, tetapi untuk wilayah yang jauh dengan mempertimbangkan efisiensi dan keterbatasan biaya serta tenaga maka kami terpaksa hanya melaksanakannya hanya 1 kali setiap 2 bulan.
Idealnya puskesmas keliling diisi dengan kegiatan ke arah kesehatan preventif dan pendidikan/penyuluhan kesehatan lingkungan dan sanitasi, tetapi pada akhirnya kami lebih sering melakukan pelayanan kuratif, pelayanan preventif paling – paling program imunisasi yang rutin bisa dijalankan. Yang memang tidak gampang untuk mengubah sesuatu yang sudah berjalan bertahun – tahun menjadi kebiasaan. Mungkin juga dengan melihat taraf pendidikan dan kesadaran hidup sehat masyarakat Biduk – biduk secara keseluruhan yang (maaf) masih rendah. Semoga nantinya dokter penerusku bisa mengubahnya menjadi lebih baik.
Ketika kami PTT tahun 2003 – 2005, ada 3 wilayah di Kecamatan Biduk – biduk yang jauh dari jangkauan puskesmas induk : Batuputih, Teluk Sumbang dan Pulau Balikukup. (mungkin saat ini dengan pemekaran Batuputih menjadi kecamatan sendiri, tinggal Teluk Sumbang yang menjadi tanggung jawab Puskesmas Biduk – biduk)
Batuputih sekaligus desa didekatnya, Lobang Kelathak dan Amper Medang, bisa dicapai dengan perjalanan darat memakai mobil Puskel. Yah seringnya jika mobil rusak kami terpaksa bermotor selama 2 jam menembus jalan hutan. Disana ada puskesmas pembantu tempat kami melaksanakan kegiatan, nah disitu seringnya kita dijamu oleh Bapak Mantri dan Bu Bidan suami istri dengan makanan berlimpah, hasil laut plus sambal yang mak nyusss….dan banya buah – buahan dibanding di Biduk. Yang kusukai lagi dengan Batuputih adalah hasil ikan yang lebih bervariasi, banyak rumah penampungan ikan, karena disitu merupakan pelabuhan nelayan yang cukup ramai, jadi anda bisa membeli ikan yang anda sukai dalam keadaan segar. Aku sendiri paling suka Ikan Putih atau Kakap Merah ….. hmmm … mak nyuss! Trus anda juga bisa mendapatkan terasi ikan / udang dari bahan ikan dan udang berkualitas, karena bahannya bukan berasal dari ikan / udang busuk atau sisa. Setelah puas berbelanja hasil laut, kita mampir ke Lobang Kelathak dan Amper Medang, desa warga Dayak. Disana kita bisa mendapatkan berbagai macam buah, nanas, mata kucing (baca=kelengkeng), rambutan, langsat (baca=duku-nya orang Dayak), semangka, durian, elay (baca=durian kuning) memang tergantung musim sih. Atau membeli ayam yang harganya lebih murah dibandingkan di Biduk – biduk. Aku ingat seorang Bapak Guru SLTP yang asli dari Jawa Timur yang keliatannya sudah bertekat menetap disitu, ia membuka berkebun dan berternak, diatas lahan yang cukup luas yang ia babat dan pagari sendiri bersama anaknya, setiap kali mampir pasti deh kita mendapat oleh – oleh hehehe. Eh … lama – lama kok jadi seperti wisata kuliner yah. Begitulah sisi yang menyenangkan dari puskesmas keliling. jadi marilah kita lanjutkan saja ulasan wisata kuliner ini.
Nah, kalau Batuputih merupakan wilayah darat, maka Puskesmas Biduk juga mempunyai wilayah laut, yaitu Pulau Balikukup. Pulau Balikukup berjarak kurang lebih 1 jam perjalanan dengan Long Boat mesin dobel dari puskesmas induk. Memang Pulau Balikukup hanyalah pulau kecil dengan penduduk yang menetap disitu hanya sekitar …………… sedangkan penduduk lainnya biasanya hanyalah pendatang yang datang – pergi untuk mencari hasil laut. Di Pulau Balikukup ada penampung hasil laut yang nantinya didistribusikan ke Samarinda, Makassar bahkan Madura. Disitu dapat anda dapatkan dengan bermacam jenisnya, kerang, cumi – cumi yang besar kepalanya bisa sebesar kepala orang dewasa, udang, lobster dan lain – lain. Banyak para pencari ikan dari berbagai penjuru yang mencari ikan di Selat Makassar singgah di Pulau Balikukup untuk menjual hasil tangkapannya, membeli bekal maupun istirahat, terutama jika terkena musim gelombang. Sayangnya kadang para pencari ikan itu menggunakan bom untuk mendapatkan hasil sebanyak – banyaknya. Tak jauh dari Pulau Balikukup ada sebuah pulau tak berpenghuni yang menurut kabar dari penduduk Biduk bahwa pulau itu merupakan tempat dikuburkannya para nelayan yang menjadi korban ketika menggunakan bom untuk mencari ikan untuk menghindari urusan dengan pihak berwajib.
Pulau Balikukup merupakan tempat yang menyenangkan, terutama jika kita menginap disaat bulan purnama. Kita bisa nongkrong di dermaga tempat kapal – kapal nelayan bersandar sambil memancing ikan. Disaat laut surut kita bisa mencari “Bale – bale”, semacam siput kerang yang tinggal di laut dangkal di sekitar pulau. Rasanya … hmmmm …. Cukup mak nyusss. Jika anda punya waktu, anda bisa pergi langsung ke beberapa pulau telur tak jauh dari Pulau Balikukup kearah tengah laut untuk mengintip bagaimana penyu itu bertelur.
Nah selain 2 tempat lagi, Puskesmas Biduk masih mempunyai 1 wilayah jauh yaitu Teluk Sumbang, yang biasa kami capai sekitar 45 menit menggunakan long boat dari Teluk Sulaeman. Teluk Sumbang memang agak terpisah dari Biduk – biduk oleh barisan gunung. Selain itu laut yang kami lalui pun temasuk laut dalam. Dua kali kujumpai ikan paus di teluk ini, walaupun besarnya hanya seukuran kerbau, tetapi cukup untuk membuatku takjub, ternyata aku bisa melihat langsung semburan air ikan paus.
Teluk Sumbang merupakan kampong penduduk Dayak asli, walaupun banyak juga orang Biduk yang berkebun disitu. Jika musimnya, kita bisa mendapatkan banyak macam buah disana. Selama aku PTT di Biduk, aku pernah mengalami 2 kali musim mangga, 1 kali musim “mata kucing”, dan 1 kali musim durian. Kenapa tidak setiap tahun ada musim untuk masing – masing jenis buah? Mungkin karena kebiasanan jelek orang Biduk. Jika hendak memetik buah, bukannya diambil buahnya, tetapi mereka memotong batang yang berisi buah. Akibatnya setiap habis musim maka pohon buah – buahan harus bertunas dari awal sehingga membutuhkan waktu lama untuk berbuah lagi. Tetapi jika sedang musimnya, anda cukup datang kesana dan petiklah sesuka dan semampu anda membawa, karena takkan ada orang yang akan melarangnya. Mungkin saking banyaknya sampai mereka sudah tidak doyan lagi, mau menjualnya semua sudah punya. Tidak tahun kenapa jarang yang mau memperdagangkannya ke luar Biduk, kecuali pisang dan kelapa yang merupakan komoditas dagang ke Samarinda. Tetapi jika kita ingin puskesmas keliling sambil mencari durian, maka lebih baik kita melalui jalan darat, masuk ke area HPH PT. Daisy Timber, ke tengah hutan dimana banyak kebun – kebun orang dayak. Tinggal cari pohon yang terlihat banyak buahnya kemudian datangilah area bawah pohon, saya jamin anda tinggal memasukkan “durian runtuh” ke dalam karung. Tetapi saya ingatkan, hati – hati kepala anda jika datang angin! Selain durian, anda juga bisa mendapatkan “elay”, perkawinan durian – cempedak, berwarna kuning oranye.
Sepulang dari Teluk Sumbang kami biasanya singgah ke Pulau Kanjungan Besar yang hanya ditinggali beberapa warga. Biar sedikit tetapi kita tidak boleh melupakannya kan! Pulau Kanjungan merupakan salah satu tujuan wisata orang Biduk. Kuingat ketika acara perpisahan dokter pendahuluku, dia meminjam kapal besar dan mengajak tetangga – tetangga untuk melancong ke Kanjungan, makan – makan di tepi pantai, berenang, skin diving. Di Kanjungan Besar, kami jumpai beberapa makam dengan nisan kayu bertuliskan huruf Bugis kuno, mungkin itu makam para pendatang pendahulu dari Makassar ke Kalimantan, karena memang Pulau Kanjungan ini merupakan tempat pedoman bagi warga yang hendak menyeberang ke Pulau Sulawesi, karena merupakan titik yang terdekat antara dua Sulawesi – Kalimantan.
Tulisan ini kudedikasikan kepada seluruh Staf Puskesmas, Kecamatan, Polres Biduk – biduk dan seluruh masyarakat Biduk – biduk yang telah menemrima, menemani, membantu dan berbagi selama kujalankan tugas PTT 2003 – 2005

