Semalam di Pulau Bilang – bilang (Dokter PTT Bagian 3)
Pulau Telur, begitu penduduk Kecamatan Biduk – biduk Kabupaten Berau, Kalimantan Timur menyebut sebuah pulau kecil yang aslinya bernama Pulau Bilang – bilang, karena di pulau yang berjarak 3 jam perjalanan dari ibukota kecamatan Biduk – biduk dengan long boat 2 mesin don feng itu memang menjadi tempat bertelur penyu – penyu di selat makssar.
Pulau Bilang – bilang ini merupakan 1 dari 5 pulau yang menjadi tempat para penyu menitipkan telur – telurnya. Tiga buah pulau berada di wilayah Kecamatan Derawan, sedangkan pulau Bilang ini masuk ke wilayah Kecamatan Biduk – biduk. Salah satu yang terbesar adalah Pulau Sangalaki, dijadikan pulau konservasi bagi penyu hijau di Kalimantan Timur. Disana banyak dikunjungi oleh para pecinta alam, peneliti lingkungan maupun wisatawan domestic maupun mancanegara, dimana biasanya mereka singgah dari Pulau Derawan, surganya bahari Kalimantan Timur. Sampai grup music Dewa-pun tertarik untuk membuat video klip salah satu lagunya disana. Sedangkan pulau – pulau lainnya entah bagaimana, malah disewakan oleh pemda kepada pengusaha swasta untuk memanfaatkan semua telur yang dihasilkan penyu – penyu itu.
Menuju Pulau Bilang – bilang
Pulau Bilang – bilang merupakan pulau yang paling kecil dibandingkan lainnya, untuk berjalan mengitarinya hanya membuutuhkan waktu tidak lebih dari 1 jam. Karena letaknya yang lumayan jauh dari daratan Kalimantan, maka ikan – ikan disitu masih sangat banyak, dengan melemparkan tali pancing kita hanya dari tepian pantai, kalo anda beruntung anda akan bisa mendapatkan ikan yang lumayan besar – besar termasuk kerapu.
Disitu tinggallah 4 orang penjaga telur yang dibayar bos-nya untuk menjaga serta “memanen” telur – telur penyu setiap harinya. Biasanya mereka bergantian setiap bulannya dengan kelompok jaga lainnya. Pagi – pagi sekali setiap harinya mereka berjalan mengitari pulau sambil mencari telur – telur penyu yang “disembunyikan” induknya didalam pasir pantai. Caranya adalah dengan mencari jejak penyu yang naik ke darat, kalau dilihat mirip dengan jejak 1 sisi roda bulldozer. Jika sampai tempat utama dimana diperkirakan penyu menyimpan telurnya, maka dengan menggunakan sebuah batang besi dipakai untuk menusuk – nusuk pasir pantai sambil membaui bau amis telur yang mungkin tertusuk. Jika ketemu, barulah mereka menggali lubang telur. Sebenarnya para induk penyu itu telah berusaha sebisa mungkin untuk menyamarkan tempat mereka menanam telurnya, dengan cara menghambur – hamburkan pasir di area sekitar tempat telur kemudian juga ia akan berjalan berputar – putar terlebih dahulu untuk mengaburkan jejak, baru kembali ke laut. Kadang – kadang hal ini bisa menyelamatkan telur – telur dari manusia.
Malam hari itu kami berniat mengintip bagaimana penyu itu bertelur, maka ketika sekitar jam 9 malam kami mulai berjalan mengitari pulau untuk mencari penyu yang tertangkap basah sedang bertelur. Ternyata penyu disana tidaklah seperti yng sering kulihat di jawa, besar penyu yang sudah cukup berumur (dilihat dengan kerang – kerang yang menempel diperisainya), bisa mencapai 2 meter persegi. Cukup besar untuk dinaiki 2 orang.
Ketika penyu itu sedang berjalan naik dari laut, membuat lubang telur, saat bertelur atau sedang mengubur telur , kami dilarang mengganggunya.
Kata penjaga pulau, jika diganggu saat itu, penyu akan kembali ke laut dan tidak mau lagi bertelur di pulau yang sama. Nah jika penyu tersebut sudah mulai berjalan ke pantai barulah kami diperbbolehkan mengganggunya dengan menaikinya bergantian …. Kasihan….
Setiap malamnya sekitar 15 – 25 ekor penyu yang naik ke darat untuk bertelur, yang bisa lebih banyak lagi jika bulan purnama, apalagi sedang musim bertelur. Setelah dikumpukan, lalu telur – telur itu dicuci menggunakan perahu kecil lalu dimasukkan kotak penyimpanan. Satu kali dalam seminggu, biasanya hari sabtu, sebuah kapal pengangkut akan datang mengumpulkan telur – telur itu dan membawanya untuk diperdagangkan. Saat itu pulau suplai makanan untuk para penjaga diberikan.
Kalo masing – masing penyu bertelur kurang lebih 80 – 100 biji per ekor, maka dalam 1 malam dapat dikumpulkan lebih 1500 butir telur. Jika dikalikan 30 hari jumlahnya bisa mencapai 45.000 butir. Sekarang silahkan anda mengalikannya dengan harga telur penyu di pasaran Samarinda yang bisa mencapai Rp 4000,- per butir, maka kita bisa mendapatkan angka Rp 180.000.000,- Itu baru 1 pulau, jika ditambah hasil dari 3 buah pulau lainnya yang notabene lebih besar yang berarti hasil juga lebih besar, kita Cuma bisa mengucap …woooww… pantas saja pengusaha swasta berlomba – lomba menyewa pulau – pulau itu.
Memang sih mereka diwajibkan pemerintah untuk tetap melestarikan populasi penyu – penyu itu dengan kewajiban menangkarkan 1 – 5 % dari jumlah telur sampai menjadi penyu yang siap dilepas kea lam bebas. Tetapi tanpa campur tangan manusia di kehidupan mereka itu saja sudah sangat banyak predator – predator yang menunggu si anak penyu turun ke laut, apalagi setelah di-“filter” oleh manusia. Tidak tahulah apakah saat nanti ketika aku bisa mengunjungi Pulau Derawan kembali apakah aku masih bisa melihat penyu ataupun sisik berenang – renang di depan penginapan. Apalagi ditambah dengan perburuan penyu Sisik itu oleh masyarakat setempat untuk diawetkan dan dijadikan hiasan dinding yang dijual bebas kepada para wisatawan. Malangnya nasibmu awahai para penyu!
Memang katanya telur penyu mengandung protein yang kadarnya sangat tinggi. Mungkin hal itu dapat dilihat dimana jika kita merebus telur penyu, maka putih telur-nya tidak akan memutih/mengental walupun 1 jam kita merebusnya. Cara makan telur penyu bagi pemula adalah dengan melubangi kulit telur, kemudian kita tuangi kecap asin atau saus, kalo suka bisa ditambah bubuk merica, kemudian kita sedot – sedot isi telur perlahan – lahan (untuk pertama kali makan telur ini sebaiknya sambil menutup hidung), sambil ditambah kecap asin semaunya…nyaaammmm…mak nyusss …… Tetapi ingatlah bahwa dengan memakan telur itu, berarti anda akan ikut andil pada kepunahan penyu hijau Kalimantan Timur. Jadi sebaiknya jika ingin makan telur penyu, mungkin lebih baik anda meminta bibit penyu kecil lalu memeliharanya di kolam mandi anda.
Tetapi kalau mengingat perjalanan pulang dari pulau telur, mungkin aku harus berpikir lebih dari dua kali untuk kembali mengunjungi pulau itu. Ketika itu kami sedang tidak beruntung saat kami pulang, mendapatkan gelombang laut yang kurang bersahabat. Beberapa perawat yang asli penduduk Biduk – biduk saja muntah – muntah, pucat, apalagi jaket penyelamat yang kubawa hanya 1 biji. (jangan memarahiku ya wahai embahnya maladica). Hanya pemilik perahu yang masih bisa tertawa – tawa, walaupun sesampai daratan kukonfirmasi ternyata mereka juga sebenarnya takut, hanya berusaha tenang agar semua tidak panic. Yah, lihat – lihat musim gelombang laut kalau nanti mau berkunjung kesana lagi.
Related articles