Pemeriksaan dan pengelolaan pasangan dengan keguguran berulang
Keguguran berulang didefinisikan sebagai kehilangan kehamilan tiga kali atau lebih. Keguguran berulang merupakan kondisi yang kompleks dan dapat disebabkan oleh banyak hal, mungkin dalam satu kasus dapat dikarenakan oleh satu atau lebih hal penyebab yang mendasarinya.
Latar belakang
Keguguran berulang adalah sebeuah masalah sulit yang terjadi pada 1% dari semua wanita.1 Insidennya akan lebih besar lagi yaitu 10–15% pada wanita yang telah mengalami keguguran sebelumnya, dan secara teoretikal risiko dari kehilangan tiga atau lebih dari kehamilan yang berurutan adalah 0.34%.3 Menurut Hence, wanita dengan kehilangan kehamilan berulang biasanya diketahui mempunyai penyebab yang mendasarinya.
Umur maternal dan jumlah keguguran sebelumnya merupakan dua faktor risiko independen terhadap terjadinya keguguran selanjutnya.2,4 Semakin tua umur ibu berpengaruh terhadap fungsi ovarium, dimana sel telur yang berkualitas akan semakin sedikit, yang berakibat abnormalitas kromosom hasil konsepsi yang selanjutnya akan sulit berkembang.
Pemeriksaan dan terapi
Faktor Genetika
“Semua pasangan dengan riwayat keguguran berulang seharusnya diperiksa kariotipe-nya. Apabila dijumpai abnormalitas kariotipe si orang tua sebaiknya dirujuk kepada ahli genetika.”
Pada 3–5% pasangan dengan keguguran berulang, salah satu dari pasangan mempunyai anomali keseimbangan struktur kromosom. Tipe abnormalitas kromosom yang paling sering terjadi adalah keseimbangan yang berlawanan atau Robertsonian translocations.5,6 Konseling genetika diberikan kepada pasangan itu atas prognosis dari kehamilan di masa yang akan datang. Pemeriksaan kromosom keluarga, konseling dan diagnosis prenatal yang adekuat menunjukkan terdapat 5–10% kemungkinan bahwa kehamilan selanjutnya akan mengalami translokasi tank seimbang. Akhir – akhir ini, diagnosis genetika pre-implantasi dilakukan untuk mencari pilihan terapi terhadap karier translokasi.7,8 Akan tetapi prosedur tehnis dan pengalaman masih sangat terbatas. Sejak ditemukan tehnik in vitro fertilisation (IVF) untuk memproduksi embrio, pasangan yang subur sebaiknya diperingatkan akan rendahnya angka implantasi dan kelahiran hidup per siklus IVF. Selanjutnya harus disampaikan bahwa mereka mempunyai kesempatan 40–50% untuk mendapatkan kelahiran bayi sehat dengan kehamilan tanpa terapi dengan konsepsi alamiah.9
Evidence level IV
“Semua pasangan dengan riwayat keguguran berulang seharusnya diperiksa analisis sitogenetika dari hasil konsepsi pada kehamilan selanjutnya apabila juga gugur.”
Keguguran berulang mungkin juga disebabkan oleh abnormalitas embrio yang mana tidak bisa bertahan hidup oleh karena abnormalitas kromosom atau malformasi strukturnya. Dengan meningkatnya jumlah keguguran, prevalensi penyebab abnormalitas kromosom akan berkurang10 dan kemungkinan penyebab dari faktor maternal yang akan meningkat.11 Jika terjadi abnormalitas kariotipe pada sebuah keguguran maka itu merupakan prognosis yang lebih baik untuk kehamilan selanjutnya.10,12 Test sitogenetika saat ini masih mahal dan mungkin hanya dilakukan pada pasien yang diberi terapi pada sebuah penelitian. Untuk mereka, kariotiping produk konsepsi memberikan informasi yang berguna untuk konseling dan pengelolaan dimasa depan.6,13
Evidence level IV
Faktor Anatomi
Sebenarnya sangat sulit untuk mengetahui mengapa kelainan rahim kongenital menyebabkan keguguran berulang. Prevalensi dan implikasi reproduksi dari kelainan kongenital di dalam populasi umum belum diketahui secara pasti. Dilaporkan prevalensi kelainan rahim pada populasi keguguran berulang berkisar antara 1.8% – 37.6%.14 Prevalensi malformasi uteri nampaknya lebih tinggi pada wanita dengan kehilangan kehamilan lambat dibandingkan keguguran pada awal kehamilan.15 Sebuah penelitian retrospektif baru – baru ini yang mengamati performa reproduksi pada pasien – pasien dengan kelainan rahim yang tidak dikoreksi mendapatkan bahwa wanita – wanita ini mempunyai angka keguguran dan persalinan prematur yang tinggi, sedangkan angka persalinan aterm/genap bulan hanya 50%.14 Operasi membuka rahim
dihubungkan dengan infertilitas pasca operasi dan juga menimbulkan risiko ruptur uteri pada kehamilan nantinya oleh karena scar luka operasi.16 Komplikasi tersebut dapat ditekan dengan operasi secara histeroskopi.14,17 tetapi saat ini belum ada uji terandomisasi yang meneliti keuntungan operasi koreksi kelainan rahim terhadap kehamilan berikutnya.
Pemakaian hysterosalpingography secara rutin sebagai tes skrining terhadap anomali rahim pada wanita dengan kehilangan kehamilan berulang masih dipertanyakan. Hal tersebut dikarenakan ketidaknyamanan pasien, risiko infeksi organ pelvis, dan paparan radiasinya, serta histersalpingografi tidak lebih sensitif dibandingkan dengan cara non invasif memakai ultrasonografi (USG) 2-dimensi daerah pelvis untuk memeriksa cavum uteri dengan atau tanpa Sonohysterography,6,18 apabila dikerjakan oleh tenaga ahli dengan skill dan pengalaman yang cukup.
Nilai diagnostik dari USG 3-dimensi terus dikembangkan dan tampak menjanjikan. 19,2° sejak USG 3-dimensi dapat
memberikan diagnosis maupun menggambarkan jenis malformasi rahim maka penggunaannya mulai menyingkirkan kebutuhan akan histeroskopi dan laparoskopi diagnostik.
“Semua wanita dengan keguguran berulang sebaiknya diperiksa anatomi dan morfologi uterus dengan USG daerah pelvis.”
Kelemahan leher rahim/serviks inkompeten
“Cervical cerclage berhubungan dengan bahaya potensial terkait operasinya dan risiko merangsang kontraksi rahim, oleh karenanya sebaiknya hanya dilakukan pada wanita apabila benar – benar memberikan keuntungan.”
Serviks inkompeten seringkali over-diagnosis sebagai penyebab kehilangan kehamilan pada mid-trimester. Saat ini belum ada tes obyektif yang dapat mengidentifikasi serviks inkompeten pada wanita yang tidak hamil secara memuaskan. Diagnosis selalu didasarkan riwayat kehilangan kehamilan lambat, yang didahului dengan ketuban pecah dini atau pembukaan serviks tanpa rasa nyeri. Pemeriksaan serviks dengan USG transvaginal selama kehamilan dapat berguna untuk meprediksi persalinan prematur pada kebanyakan kasus yang dicurigai serviks inkompeten.21
Evidence level Ib
Transabdominal cerclage dianjurkan sebagai pengelolaan kehilangan kehamilan trimester kedua dan pencegahan persalinan prematur dini pada wanita – wanita dengan kegagalan pemasangan sirklase trasvaginal sebelumnya, dan/atau serviks yang sangat pendek atau berparut. Sebuah systematic review27 terakhir membandingkan sirklase abdominal dengan vaginal pada wanita dengan kegagalan pemasangan sirklase vaginal pada kehamilan sebelumnya. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa abdominal cerclage berhubungan dengan risiko kematian perinatal atau persalinan sebelum 24 minggu yang lebih rendah, akan tetapi juga berkaitan dengan risiko komplikasi operasi serius yg lebih tinggi.
Faktor Endokrin
“Skrining diabetes dan penyakit tyroid secara rutin dengan pemeriksaan TTGO dan tes fungsi tyroid pada keguguran berulang tanpa gejala tidaklah informatif.”
Gangguan endokrin sistemik pada maternal seperti diabetes mellitus dan penyakit thyroid dihubungkan dengan kehilangan kehamilan. Wanita dengan kadar HbA1c yang tinggi pada trimester pertama berisiko keguguran dan kelainan janin.28 Akan tetapi DM yg terkontrol dengan baik bukan merupakan risiko keguguran berulang, begtu pula dengan disfungsi tyroid yang terobati.29,3° Prevalensi DM dan disfungsi tyroid pada wanita yang mengalami keguguran berulang adalah sama dengan perkiraan pada populasi umum.6,31,32
“Masih sedikit bukti yang meneliti efek suplemen progesteron pada sebuah kehamilan untuk mencegah keguguran.”
Sebuah kajian tentang angka kehamilan yang mengikuti terapi hormon atas indikasi defek fase luteal menyimpulkan bahwa keuntungannya belum pasti.33 Hanya ada meta-analysis yang mengamati tunjangan progesteron untuk kehamilan dengan keguguran berulang yang mendapatkan progesteron mempunyai efek yang bermanfaat.34
Evidence level Ia
“Masih sedikit bukti yangmendukung perlunya pemeriksaan human chorionic gonadotrophin(hCG) pada kehamilan untuk mencagah keguguran berulang”
Sebuah sebuah multi-centre placebo controlled study tentang suplemen hCG pada kehamilan muda gagal menunjukkan keuntungan pada keluaran persalinan.35 Akan tetapi sebuah controlled study menyebutkan bahwa keuntungan hCG pada subgroup kecil (n = 23) dari pasien dengan keguguran berulang dan oligomenorea.36
Evidence level Ib
“Supresi pre kehamilan dengan luteinising hormone (LH) dosis tinggi pada wanita ovulasi dengan keguguran berulang dan polikistik ovarii dimana terjadi hipersekresi LH, tidak meningkatkan angka kelahiran hidup”
Polycystic ovarian syndrome (PCOS) dihubung-hubungkan dengan keguguran. Hipersekresi LH, paling sering terjadi pada PCOS, dilaporkan sebagai faktor risiko berhentinya kehamilan muda.
Evidence level Ib
“Ovarium polikistik itu sendiri tidak dpt dijadikan prediksi meningkatnya risiko kehilangan kehamilan berikutnya pada wanita berovulasi dengan riwayat keguguran berulang yang mendapat kehamilan secara alami”
Morfologi ovarium polikistik merupakan gambaran klasik dari PCOS. Prevalensi ovarium polikistik yg diidentifikasi dengan kriteria secara pemeriksaan USG, secara signifikan lebih tinggi pada wanita dengan keguguran berulang (41%) jika dibandingkan pada populasi umum (22%).38 akan tetapi meskipun prevalensinya tinggi, ovarium polikistik itu sendiri tidak dapat dijadikan prediksi meningkatnya kehilangan kehamilan nantinya pada wanita dengan riwayat keguguran berulang yang mendapatkan kehamilan secara alami.38
Evidence level III
Riwayat sub-fertilitas (konsepsi tertunda lebih dari 12 bulan) terjadi pada 25–30% wanita dengan riwayat keguguran berulang. Hal itu lebih sering disebabkan gangguan ovulasi dan memberikan prognosis buruk untuk keluaran kehamilan nantinya.6 Penigkatan kadar follicle-stimulating hormone (FSH) secara persisten ditemukan pada sejumlah kecil wanita tersebut dan seharusnya segera dilakukan peneriksaan lanjutan dan konseling akan kemungkinan kegagalan ovarium prematur. 6
“Saat ini masih kurang bukti yg menunjukkan efek hiperprolaktinemia sebagai risiko keguguran berulang”
Hyperprolactinaemia sebagai faktor risiko keguguran berulang masih menjadi perdebatan dan bukti – bukti masih saling bertentangan.31,32 Sebuah RCT39 melibatkan 64 wanita dengan riwayat keguguran berulang 2 kali atau lebih dan hyperprolactinaemia tidak berhubungan dengan abnormalitas ovarium dan endokrin seperti yang telah dilaporkan bahwa prosentase keberhasilan kehamilan secara signifikan lebih tinggi pada kelompok yang diterapi dengan bromocriptine (85.7%) dibandingkan dengan tanpa terapi (52.4%). Akan tetapi studi ini dikritik berkaitan dengan definisi hyperprolactinaemia dan keguguran berulang itu sendiri.40
Evidence level Ib
Faktor imun
Antithyroid antibodies
“Skrining rutin antibodi tyroid pada wanita dengan keguguran berulang tidak direkomendasikan”
Sebuah case–control study41 menunjukkan bahwa wanita dengan keguguran berulang tidak lebih mempunyai antibodi tyroid dibandingkan kontrol yang subur. Sebuah prospective study42 menunjukkan antibodi tyroid ada pada wanita euthyroid dengan riwayat keguguran berulang tidak mempengaruhi keluaran kehamilan berikutnya.
Evidence level III
Antiphospholipid syndrome (APS)
Antiphospholipid syndrome (APS) primer mengarah kepada hubungan antara antiphospholipid antibodies (aPL) dan keluaran kehamilan yang buruk atau trombosis vaskular.43 Keluaran kehamilan yg buruk meliputi (a) tiga atau lebih keguguran berulang sebelum 10 minggu kehamilan, (b) satu atau lebih kematian janin dengan morfologi normal setelah 10 minggu, dan (c) satu atau lebih kelahiran prematur sebelum 34 minggu yang disebabkan pre-eclampsia, eclampsia dan insufisiensi placenta. Ketika APS muncul pada keadaan inflamasi kronik, seperti systemic lupus erythematosus, hal ini merujuk pada APS sekunder.
Mekanisme aPL menyebabkan morbiditas kehamilan meliputi penghambatan fungsi trofoblas dan diferensiasinya44–47 dan, pada kehamilan lanjut, trombosis dari vaskular uteroplasenter.48–50
“Untuk mendignosis APS diharuskan agar pasien menunjukkan dua kali tes hasil positif setidaknya selang 8 minggu untuk masing – masing lupus anticoagulant atau anticardiolipin (aCL) antibodies dari kelas IgG dan/atau IgM denga titer menengah atau tinggi”
Dalam mendeteksi antikoagulan lupus, tes dilute Russell’s viper venom time (dRVVT) lebih sensitif dan spesifik dibandingkan tes activated partial thromboplastin time (aPTT) atau tes kaolin clotting time (KCL).51 Antibodi anticardiolipin dideteksi menggunakan standar enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Deteksi aPL harus memperhatikan variasi inter-laboratorium.52 Ini dikarenakan fluktuasi temporal titer aPL pada individual pasien, yang dapat sementara positif dengan adanya infeksi, pengumpulan sampel dan preparasi suboptimal dan kurangnya standarisasi tes laboratorium.
Antibodi antiphospholipid muncul pada 15% wanita dengan keguguran berulang.51 Sebagai perbandingan, prevalensi aPL pada wanita dengan riwayat obstetrik risiko rendah adalah kurang dari 2%.53,54 Pada wanita dengan keguguran berulang yang berhubungan dengan aPL, angka kelahiran hidup pada kehamilan tanpa intervensi farmakologi lebih rendah dari 10%.55
“Saat ini tidak ada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa steroid meningkatkan angka kelahiran hidup pada wanita dengan riwayata keguguran berulang yang berkaitan dengan aPL jika dibandingkan dengan terapi lainnya; mungkin penggunaan steroid malah menimbulkan morbiditas maternal dan janin”
Dua RCT kecil melaporkan bahwa terapi wanita yang mengalami keguguran berulang terkait aPL dengan steroid selama kehamilan tidak meningkatkan angka kelahiran hidup dibandingkan pemberian aspirin atau aspirin + heparin. Steroid dihubungkan dengan morbiditas maternal dan janin.56,57
Evidence level Ib
“Wanita dengan riwayat keguguran berulang dan aPL, angka kelahiran hidup pada masa depan secara signifikan meningkat dengan pemberian terapi kombinasi aspirin + heparin”
Sebuah randomised controlled trial58 menunjukkan bahwa angka kelahiran hidup pada wanita dengan riwayat abortus berulang terkait aPL yang diterapi dengan aspirin dosis rendah hanya 40% dan ini meningkat secara signifikan menjadi 70% ketika dikombinasi dengan heparin dosis rendah.
Sebuah meta-analysis59 dari 2 RCT menyimpulkan bahwa pada wanita dengan riwayat abortus berulang terkait aPL, terapi dengan heparin dosis rendah plus aspirin dosis rendah secara signifikan mengurangi kehilangan kehamilan 54% ketika dibandingkan dengan pemberian aspirin saja. Akan tetapi uji ini tidak meniadakan efek plasebo dari pemberian heparin.
Meta-analysis yang sama59 meneliti pemberian aspirin saja dibandingkan dengan plasebo atau supportive care dan tidak menjumpai keuntungan yg signifikan (tiga uji).
Sebuah RCT baru – baru ini60 melaporkan angka keberhasilan yg tinggi dari pemberian aspirin saja da tidak ada manfaat yg signifikan pada angka kelahiran hidup dengan penambahan heparin. Akan tetpi studi ini mengikutkan wanita dengan titer aPL rendah, kebanyakan dirandomisasi sampai umur 12 minggu yang mana merupakan waktu dimana keguguran terkait aPL biasanya terjadi.
“Kehamilan terkait aPL yang diterapi dengan aspirin dan heparin meninggalkan risiko tinggi terjadi komplikasi pada kesseluruhan trimester”
Walaupun pemberian aspirin plus heparin secara substansi meningkatkan angka kelahiran hidup pada wanita dengan abortus berulang terkait aPL, kehamilan ini mempunyai risiko terjadi komplikasi yang tinggi pada setiap trimester meliputi berulangnya keguguran, pre-eclampsia, fetal growth restriction dan kelahiran preterm,58,61,62 sehingga membutuhkan pengawasan antenatal secara teliti.
Osteopenia dan fraktur tulang vertebraadalah komplikasi mayor dari pemberian terapi heparin jangka panjang. Dua studi prospektif63,64 menunjukkan bahwa kehilangan densitas mineral tulang pada spina lumbalis berhubungan dengan pemberian terapi heparin jangka panjang adalah sama dengan yang terjadi pada selama kehamilan fisiologis.
Alloimmune factors
“Imunoterapi, meliputi imunisasi sel paternal, donor lekosit pihak ketiga, membran trofoblas dan immunoglobulin intravena (IVIG), pada wanita dengan keguguran berulang tak terjelaskan tidak meningkatkan angka kelahiran hidup”
Tidak ada bukti yang jelas yang mendukung hipotesis bahwa inkompatibilitas HLA antara pasangan, tidak adanya antibodi leucocytotoxic maternal atau tidak adanya antibodi blocking maternal yang berhubungan dengan kehilangan kehamilan berulang. Pemberian imunitas endometrial pada abortus berulang saat ini masih diteliti.
Infeksi
“Skrining TORCH (toxoplasmosis, other [congenital syphilis and viruses], rubella, cytomegalo¬virus and herpes simplex virus) tidaklah banyak membantu pada kejadian abortus berulang”

Pada kejadian infeksi berat yg menimbulkan bakteremia dan viremiadapat menyebabkan keguguran sporadik. Mekanisme infeksi menyebabkan keguguran berulang belumlah jelas. Agen infeksi untuk menjadi penyebab keguguran berulang harus mampu menetap pada traktus genital dan menghindari deteksi atau tidak menimbuulkan gejala yang mengganggu wanita. Toxoplasmosis, rubella, cytomegalovirus, herpes dan listeria tidak memenuhi kriteria tersebutdan skrining TORCH secara rutin sebaiknya ditinggalkan.70,71
“Skrining dan terapi bakterial vaginosis pada kehamilan muda pada wanita dengan risiko tinggi dan riwayat kehilangan kehamilan sebelumnya pada trimester kedua atau kelahiran preterm spontan mungkin dapat mengurangi risiko angka berulangnya abortus dan kelahiran preterm”
Adanya bakterial vaginosis pada trimester pertama dilaporkan menjadi risiko berhentinya kehamilan pada trimester kedua dan persalinan preterm72 tetapi bukti yang menunjukkan hubungan dengan keguguran pada trimester pertama tidaklah konsisten.73,74 Sebuah systematic review75 dari 5 RCT dan selanjutnya 3 uji randomised placebo-controlled76–78 menunjukkan bahwa tidak ada manfaat dari skrining dan terapi rutin semua wanita dengan bakterial vaginosis untuk mencegah persalinan preterm. Akan tetapi the Cochrane review75 menunjukkan bahwa untuk wanita dengan riwayat persalinan preterm sebelumnya, deteksi dan terapi bakterial vaginosis secara dini pada kehamilan dapat mencegah persalinan preterm berikutnya.
Inherited thrombophilic defects/defek trombofilik yang diturunkan
Inherited thrombophilic defects, meliputi resisten protein C teraktivasi (kebanyakan disebabkan mutasi gen faktor V Leiden), defisiensi C/S dan antithrombin III, hyperhomocysteinaemia dan mutasi gen prothrombin, merupakan penyebab trombosis sistemik.
Studi retrospektif79 menunjukkan hubungan antara defek trombofilik yg diturunkan dengan kehilangan kehamilan dan komplikasi kehamilan lanjut, dengan dugaan mekanisme trombosis dari sirkulasi uteroplasenter. Akan tetapi data preospektif tidak mencukupi. Sebuah styudi kecil80 menemukan bahwa six hereditary thrombophilias tidak mempunyai efek pada angka kelahiran hidup pada wanita dengan keguguran berulang. Kebalikannya, sebuah studi preopektif lainnya81 menunjukkan bahwa wanita dengan keguguran berulang yang mengalami mutasi factor V Leiden (FVL) secara signifikan meningkatkan risiko keguguran, dibandingkan dengan genotipe factor V normal. Akan tetapi, karier mutasi FVL tidak menghindari kelahiran aterm tanpa komplikasi.
Efektifitas tromboprofilaksis selama kehamilan pada wanita dengan keguguran berulang sebelumnya yang mempunyai defek trombofilik diturunkan, tetapi dengan asimptomatik belum diteliti dengan RCT prospektif. Tiga studi tanpa kontrol82–84 mengatakan terapi heparin dapat meningkatkan angka kelahiran hidup pada wanita – wanita tersebut.
Unexplained recurrent miscarriage/Keguguran berulang tak terjelaskan
“Wanita dengan keguguran berulang tak terjelaskan mempunyai prognosis yang bagus untuk kehamilan berikutnya walaupun tanpa intervensi farmakologi jika diberikan perawatan suportif saja pada unit perawatan kehamilan muda berdedikasi”
Proporsi kasus keguguran berulang yang signifikan masihlah tak terjelaskan penyebabnya, meskipun telah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Wanita ini dapat diyakinkan bahwa prognosis keberhasilan kehamilan berikutnya dengan perawatan suportif mencapai 75%.86,87 Akan tetapi, prognosis menjadi lebih jelek dengan meningkatnya umur maternal dan jumlah dari keguguran sebelumnya. Harga dukungan psikologi untuk meningkatkan keberhasilan kehamilan belum diuji dengan randomised controlled trial. Akan tetapi data dari beberapa studi non-randomised86–88 menunjukkan bahwa kehadiran di sebuah dedicated early pregnancy clinic memberikan manfaat besar, walaupun mekanisme itu tidaklah diketahui. Data ini menganggap bahwa terapi empiris untuk wanita dengan riwayat kehilangan kehamilan berulang adalah tidak perlu dan sebaiknya dihindari. Lebih jauh lagi, evaluasi klinis terapi di masa yang akan datang untuk kehilangan kehamilan berulang sebaiknya hanya dilakukan dalam konteks uji terandomisasi yang sesuai dan benar dengan menyingkirkan faktor penyimpangan kromosom janin.
References
Related articles