Mola Hidatidosa (MH) disebut juga Hydatidiform Mole, Vesicular Mole, Hydatid Mole, Hydatidiform Degeneration of the Chorion
Gambaran umumnya meliputi :degenerasi hidropik stroma villi khorialis, Proliferasi trofoblas, dan berkurangnya pembuluh darah villi.
Ada 2 macam kelainan yaitu MH Komplit dan MH Parsial
MOLA HIDATIDOSA KOMPLIT : hasil pembuahan yang tidak normal, tidak terdapatnya mudigah (embrio) ataupun janin (fetus), maupun tali pusat, dan selaput amnion
MOLA HIDATIDOSA PARSIAL : terdapat mudigah atau janin baik hidup ataupun mati, tali pusat dan selaput amnion.
Faktor risiko
FAKTOR UMUR : risiko MH paling rendah pada kelompok umur 20-35 tahun. risiko MH naik pada kehamilan remaja < 20 tahun,Naik sangat tinggi pada kehamilan remaja < 15 tahun, kira-kira 20 x lebih besar. tinggi pada umur > 40 tahun,naikan sangat menyolok pada umur = 45 tahun
FAKTOR RIWAYAT KEHAMILAN MH SEBELUMNYA ?Wanita MH sebelumnya, punya risiko lebih besar naiknya kejadian MH berikutnya
FAKTOR KEHAMILAN GANDA ?mempunyai risiko yang meningkat untuk terjadinya MH
FAKTOR KEBANGSAAN / ETNIK ?wanita kulit hitam meningkat,dibanding wanita lainnya. Euroasian ? turun dua kali lipat dibanding wanita Cina, India atau Malaysia.
FAKTOR GENETIKA? frekuensi Balance Tranlocation, wanita dengan MH komplit lebih banyak dibandingkan dengan yang didapatkan pada populasi normal
FAKTOR MAKANAN DAN MINUMAN ?angka kejadian MH tinggi diantara wanita miskin, diet yang kurang protein ? kelainan genetik pada kromosom.(kontroversi)
FAKTOR SOSIAL EKONOMI ?resiko MH tinggi pada sosial ekonomi rendah (kontroversi)
FAKTOR LAIN : Faktor hubungan keluarga/consanguinity, Faktor merokok, Faktor toksoplasmosis.
Pathogenesis
Tidak sempurnanya aliran darah fetus (“fetal circulatori inadequacy”) yang terjadi pada sel telur patologik, yaitu pada hasil pembuahan dimana embrionya mati kehamilan 3-5 minggu, pembuluh darah villi tidak berfungsi ? penimbunan cairan dijaringan mesenkhim villi.
Struktur trofoblas abnormal ?hiperplasia, displasia, neoplasia.
Fungsi abnormal?absorbsi cairan yang berlebihan kedalam villi ? proses penekanan ? kerusakan pembuluh darah? kematian bayi.
Adanya gangguan dari pertahanan imonologis terhadap trofoblas.
Adanya kelainan sitogenetik. Dimana terdapat sel telur patologik yang tidak mempunyai kromosom maternal (“empty egg”)
Menurut DR. Dr. Andrijono, SpOG(K) dari Fak Kedokteran UI, perkembangan jaringan mola salah satunya disebabkan oleh defisiensi vitamin A.
Tanda dan gejala
Amenore
Pembesaran uterus
Perdarahan pervaginam dan nyeri perut bawah
Pengeluaran Gelembung Mola
Gestosis/Toksemia / Pregnancy Induced Hypertension / Toxaemia Like Syndrome
Kelainan Kelenjar Tiroid
Pemeriksaan klinis
Palpasi abdomen Teraba uterus membesar,tidak teraba bagian janin,gerakan janin, balotemen
Auskultasi Tidak terdengar djj
Periksa dalam vagina uterus membesar, Bagian bawah uterus lembut dan tipis, serviks terbuka dapat diketemukan gelembung MH, perdarahan, sering disertai adanya Kista Teka Lutein Ovarium (KTLO)
Pemeriksaan dengan sonde uterus (Acosta Sison)? MH hanya ada gelembung-gelembung yang lunak tanpa kulit ketuban sonde uterus mudah masuk sampai 10 cm tanpa adanya tahanan
Pungsi melalui dinding perut / omniosentesis / guiffredas test / aspirasi test
Pemeriksaan radiologi
Foto Abdomen MH tidak tampak kerangka janin. Dilakukan setelah umur kehamilan 16 minggu (ada yang menganjurkan setelah
Amniografi/histerografi cairan kontras lewat transabdominal / transkutaneus atau transervikal kedalam rongga uterus, akan menghasilkan amniogram atau histerogram yang khas pada kasus MH, yang disebut sebagai sarang tawon/typical honeycomb pattern/honeycomb
USG
Typical Molar Pattern/Classic Echogram Pattern? pola gema yang difus ?gambaran badai salju/kepingan salju/snowstorm
Atypical molar pattern/Atypical echogram pattern? adanya perdarahan diantara jaringan mola.
Janin? MH KOMPLIT tidak didapatkan janin, MH PARSIAL Plasenta yang besar dan luas, kantong amnion kosong atau terisi janin. Janin masih hidup dengan gangguan pertumbuhan & kelainan kongenital, atau sudah mati
Kista Teka Lutein Ovarium (KTLO), biasanya besar, multilokuler, dan sering bilateral.
PEMERIKSAAN HCG (HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN) ?kadar HCG yang tetap tinggi & naik cepat setelah hari ke 100 (dihitung sejak gestasi / hari pertama haid terakhir )
SITOGENETIK ?MH komplit ( 92- 96% ) konstitusi kromosomnya mempunyai kariotipe diploid (46 XX) MH parsial kebanyakan kromosomnya triploidi (69 XXY) dan beberapa kasus 92 XXY.
Patologi anatomi
Makroskopis ?Gambaran khas MH berupa kista / gelembung dengan berbagai macam ukuran, Dindingnya tipis, kenyal, berwarna putih jernih, berisi cairan. Tangkai melekat pada endometrium. Bila tangkainya terlepas, terjadi perdarahan.
Mikroskopis ?Stroma villi mengalami degenerasi hidropik, yang tampak sebagai kista,Proliferasi trofoblast ( baik sel Langhans / sitotrofoblast maupun sinsisiotrofoblast ), sehingga terbentuk beberapa lapisan,Tidak ada atau berkurangnya pembuluh darah pada villi.
Klasifikasi
Klasifikasi histopatologi
KLASIFIKASI SARWONO PRAWIROHARDJO DKK. :
Mola hidatidosa,
Korikarsinoma villosum
Korikarsinoma non villosum
KLASIFIKASI FIGO
Hydatidiform Mole.
Invasive Hole.
Choriocarcinoma.
Placental Site Trophoblastic Tumor.
Other ( Please specify in remarks ).
UnknoNn ( Not microscopically verified ).
KLASIFIKASI WHO
Molahidatidosa (komplet dan parsial)
Mola Invasif
Koriokarsinoma
Plasental site tropoblastic tumor
Trophoblastic tumor, Miscellaneuous (Exaggerated placentalsite, placsite nodule or plaque)
Unclasified trophoblastic lesion
Klasifikasi klinis
KLASIFIKASI FIGO 2000:
Stage I : Tumor terbatas pada Uterus
Stage II : Tumor meluas keorgan genital lainnya
Stage III : Tumor metastasis ke paru-paru denganatau tanpa perluasan genital.
Stage IV : Distant metastases ( other than lung ).
Diagnosis banding
Diagnosis banding uterus yang ukurannya lebih besar dari pada umur kehamilan ? hidramnion, kehamilan multipel,dan uterus hamil disertai adanya mioma uteri.
Diagnosis banding perdarahan uterus dan nyeri perut pada trimester I atau trimester II kehamilan ?abortus mengancam & abortus incompletus
Diagnosis banding pemeriksaan sonde ?Kehamilan biasa sebelum 20 minggu , Kematian janin intra uterine , Solusio plasenta & missed abortion
Diagnosa banding pemeriksaan USG ? Missed abortion, Massa dirongga panggul, Massa plasenta yang besar pada kehamilan ganda, Kematian janin dalam rahim
Terapi
PERBAIKAN KEADAAN UMUM ? anemia yang berat, gangguan penjendalan darah, pre eklampsi & eklampsi, tirotoksikosis & krisis tiroid, harus diatasi lebih dahulu
PENGELUARAN ( EVAKUASI ) GELEMBUNG MOLA dengan cara : DILATASI & KURETASE didilatasi batang laminaria atau dengan dilatator hegar ? evakuasi memakai cunam abortus, dilanjutkan dengan memakai sendok kuret atau vakum kuret (suction curettage), HISTEROTOMI ABDOMINAL ? tindakan pengosongan isi kavum uteri dengan sayatan pada korpus uteri bagian depan. Biasanya perabdominal atau HISTEREKTOMI ? Pengeluaran gelembung MH dengan histerektomi dikerjakan pada wanita yang sudah mendekati menopause, dan sudah mempunyai jumlah anak yang cukup, Wanita menopause meskipun belum mempunyai anak, perforasi uterus, Perdarahan pervaginam yang hebat (JADI PENGANGKATAN RAHIM BUKAN TERAPI MOLA SECARA LANGSUNG)
INDUKSI EKSPULSI DENGAN OBAT OBATAN ?oksitosin, prostaglandin / PgE2 dan injeksi intra uterine dengan larutan garam fisiologis / NaCl 0,9 % hipertonis ?sekarang sudah ditinggalkan / tidak dianjurkan lagi.
SITOSTATIKA PROFILAKSIS ? mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya keganasan,Macam sitostatika yang digunakan antara lain Methotrexate dan Actinomisin D.
TERAPI TERHADAP KISTA TEKA LUTEIN OVARIUM ? tidak membutuhkan pengobatan. Terapi pembedahan terhadap KTLO dilakukan hanya bila ada komplikasi.
TERAPI TERHADAP KRISIS TIROID apabila terjadi, dengan obat Beta bloking agent: propanolol dan oxprenolo, mengatur frekwensi jantung, jantung dapat bekerja efektif, Kardiotonika ( kalau terdapat payah jantung ), Usaha untuk menurunkan panas badan, dan Obat antitiroid, misalnya : Prophylthiouracil, Carbamazol, Kalium Jodida. Evakuasi jaringan trofoblast , dilakukan bila keadaan telah menjadi euthyroid. pengeluaran jaringan trofob last, maka pengaruh tiroid cepat kembali normal.
IMUNOTERAPI Imunoterapi diberikan sebagai adjuvant, Beberapa cara pengobatan imunologi yang pernah digunakan terhadap MH antara lain yaitu : Transplantasi antigen ( ABO & HLA ), Imunoterapi spesifik dengan " paternal antigen ", Rangsangan imunologi non spesifik Contohnya yaitu : BCG (BACILUS CALMETTE GUERIN
Pengawasan lanjut
Tujuan pengawasan lanjut ? mengetahui sedini mungkin adanya perubahan keganasan, Lamanya berkisar antara 6 bulan sampai 3 tahun
ANAMNESIS,kunjungan ulang: Perdarahan pervaginam yang tidak teratur, Perdarahan dari tempat lainnya, Kelainan susunan saraf pusat dan Gejala kelainan paru-paru.
PEMERIKSAAN PERUT & PANGGUL Untuk mencari adanya subinvolusi uterus, kista teka lutein ovarium, dan metastasis ke vagina.Tanda-tanda adanya keganasan antara lain :
Adanya perdarahanDalam keadaan normal harus tidak ada perdarahan 7 atau 8 hari setelah evakuasi MH.
Uterus tetap besar/sub involusi, atau bertambah besarnya uterus yang tidak normal. Dalam keadaan normal uterus harus involusi sempurna pada akhir minggu ke 4 setelah evakuasi ).
Adanya massa di panggul.
Adanya benjolan berwarna ungu (“purplish nodule") di vagina.
PEMERIKSAAN HCG,Setelah evakuasi MH, terjadi penurunan cepat kadar HCG.
* Pola penurunan HCG normal.
* Pola penurunan HCG abnormal, yang menunjukkan dugaan kuat adanya keganasan, yaitu :
* Kadar HCG yang tetap tinggi ( " PERSISTENT " )
* Penurunan kadar HCG mendatar ( " PLATEAU " )
* Kadar HCG yang sudah pernah negatip mengalami kenaikan lagi (SECONDARY RISE)
* FOTO THORAX, yang pertama harus dikerjakan selama pemeriksaan Karena paru-paru merupakan tempat metastasis yang paling sering pada penyakit trofoblast metastatik, Sampai kadar HCG menjadi negatip. Pemeriksaan foto thorax dilakukan tiap bulan.
Prognosis, tergantung kepada : Penyulit yang menyertai serta Adekuat atau tidaknya pengelolaan
Umumnya kematian pada MH disebabkan karena: Perdarahan, Preklampsi dan eklampsi, Infeksi, Perforasi dinding uterus pada waktu tindakan, Emboli paru, Krisis tiroid.
Risiko jangka panjang yang paling utama pada penderita pasca MH adalah tetap berlanjutnya aktivitas trofoblast sebaga KORIOKARSINOMA
FAKTOR PROGNOSIS UNTUK BERKEMBANGNYA NTGG PASCA MH
Faktor ukuran besarnya uterus.
Faktor kadar HCG sebelum ( pra ) evakuasi .
Faktor perdarahan pervaginam.
Faktor hasil pemeriksaan patologi anatomi.
Faktor umur penderita.
Faktor MH berulang.
Faktor Suku bangsa / ethnic / ras
Faktor umur kehamilan.
Faktor gestosis.
Faktor graviditas / paritas.
Faktor kadar hemoglobin.
Faktor emboli trofoblast ke paru-paru,
DIC & Udema paru paru akut.
Faktor golongan darah.
Faktor metastasis.
Faktor cara pengobatan.
Faktor steroid & kontrasepsi oral
Faktor khemoterapi profilaksis
Faktor kista teka lutein ovarium
Menurut Prof. Dr. Soetoto, SpOG(K) dari FK Undip (alm) pencegahan perkembangan mola hidatidosa menjadi keganasan trofoblas dapat dilakukan dengan pemberiansuntikan imunisasi BCG. Sedangkan menurut DR. Dr. Andrijono, SpOG(K) dari FKUI, dapat dengan diberikan Vitamin A dosis tinggi.
Tulisan ini kupersembahkan untuk kakakku tercinta di Yogyakarta