Pilihan persalinan pada riwayat infertilitas primer

Infertilitas rpimer adalah pasangan suami istri yang dengan berhubungan secara rutin tanpa menggunakan suami istri, belum mempunyai keturunan setelah 1 tahun berumah tangga. Jika pasangan tersebut akhirnya hamil, apalagi jika memperoleh kehamilannya tersebut setelah sekian lama berumah tangga, pastinya akan menjadikan riwayat infertilitas itu untuk menjadi precaution tersendiri dalam persalinannya. Aku sering menjumpai bahwa ibu hamil dengan riwayat infertilitas pimer diperlakukan khusus dalam persalinanya, yaitu mungkin lebih sedikit agresif. Jika tidak ada penyulit – penyulit yang lain atau sebelum 41 minggu sudah memasuki proses persalinan (inpartu) maka pasien ini dapat melahirkan senormal mungkin. Namun sebagai seseorang yang juga pernah mengalami infertilitas selama 4 tahun, dimana anakku pada akhirnya lahir secara sesar karena letak sungsang, aku akan lebih setuju jika pasien infertilitas dilakukan sesar jika datang dengan 1 atau lebih penyulit lain, misalkan datang dalam kondisi belum inpartu, datang dengan ketuban pecah dini, ketuban habis, kelainan letak, serotinus, IUGR, dan kontraindikasi obstetrik lainnya, atau penyulit lain seperti obesitas, hipertensi, usia yang ekstrim tua, ataupun kehamilannya didapat dengan Assisted Reproductive Technology. Sesar juga pasti kulakukan jika pasien tersebut dalam persalinannya mengalami penyimpangan seperti kemajuan lambat, partus tak maju, inertia uteri, ibunya tidak kooperatif, partus macet dll. Sebisa mungkin tidak akan kulakukan modifikasi persalinan dan operative vaginal delivery pada pasien seperti ini.

Dalam pemikiran saya, jika pasien riwayat infertilitas dilahirkan pervaginam maka akan dapat mencoba hamil lagi dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, tidak harus menunggu 18 bulan lagi seperti jika dilakukan sesar. Belum lagi ada journal yang mengatakan bahwa sesar sendiri dapat menurunkan fertilitas wanita. Kemudian lagi risiko – risiko untuk kehamilan berikutnya.

Pada akhirnya aku sangat menghimbau persalinan pada dengan riwayat infertilitas ini harus diawasi lebih teliti, walaupun tidak berarti bahwa ibu yang tidak mengalami infertilitas tidak diawasi dengan baik … Tetapi maksudku bahwa jika perjalanan persalinan tidak berjalan seperti yang diharapkan misalkan kemajuannya lambat tidak sesuai partograph atau kurva friedman, atau inertia uteri, atau partus macet dan peyulit – penyulit lainnya, maka lebih baik kita ambil jalan pintas dengan operasi sesar daripada mencoba cara pervaginam tetapi dengan risiko asfiksia bayi.

Bookmark and Share
blog comments powered by Disqus
line
footer